PadangPanjang.Sinyalnews.com—Seorang pria yang diduga ODGJ diamankan Satpol PP setelah laporan warga. Namun di rumah dinas wali kota, ia tidak diperlakukan sebagai masalah, melainkan sebagai manusia: diajak bicara, dijamu makan, hingga bernyanyi bersama. Dua jam kemudian ia pulang dengan senyum,mengingatkan bahwa empati kadang lebih ampuh daripada penertiban.
Malam itu bermula dari laporan warga. Seorang pria yang diduga ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) disebut-sebut meresahkan masyarakat di kawasan RT 12. Warga yang khawatir kemudian melapor kepada aparat.
Petugas Satpol PP segera bergerak. Pria itu diamankan untuk mencegah situasi yang tak diinginkan. Ia kemudian dibawa dan dilaporkan kepada pimpinan daerah.
Namun alur penanganannya justru berubah menjadi kisah yang tak biasa. Wali Kota yang menerima laporan itu tidak langsung memerintahkan prosedur standar seperti biasanya. Ia justru memberi arahan yang membuat para petugas sedikit terkejut.
“Bawa saja dia ke rumah dinas,” kata sang wali kota. Tak lama kemudian, mobil petugas tiba di rumah dinas wali kota. Hadir malam itu Kasat Pol PP,Kabid, Wakil Wali Kota, Sekda, serta beberapa warga RT 12 yang sebelumnya ikut membantu mengamankan pria tersebut.
Di ruang tamu rumah dinas, suasana yang tadinya tegang berubah hangat.Pria itu memperkenalkan dirinya. Namanya Muslim. Ia mengaku berasal dari Koto Panjang, tepatnya di Kubu Cubadak.
Alih-alih diperlakukan seperti orang yang bermasalah, Muslim justru disambut seperti tamu biasa.Tangannya disalami.Kabar dan masalahnya ditanyakan.Makanan dan minuman disuguhkan.Sebatang rokok diberikan agar ia lebih tenang. Perlahan, suasana mencair. Wajah yang semula tegang mulai tampak lebih santai.
Percakapan berlangsung lama. Wali kota Hendri Arnis mencoba menggali apa yang sebenarnya ia rasakan dan alami. Dari obrolan itulah diketahui bahwa Muslim memiliki kegemaran bernyanyi.
Tanpa ragu, wali kota Hendri Arnis mengajaknya masuk ke ruang karaoke rumah dinas.Yang terjadi setelah itu membuat banyak orang yang hadir malam itu terdiam sambil tersenyum.
Wali kota dan Muslim bernyanyi bersama. Lagu demi lagu mengalun. Kadang mereka tertawa, kadang saling memberi tepuk tangan.
Hampir dua jam waktu berlalu.Para petugas Satpol PP yang sejak awal menangkap dan mengantarnya hanya saling pandang. Situasi yang awalnya diperkirakan akan rumit, justru berubah menjadi malam yang penuh kehangatan.
Ketika karaoke berhenti, Muslim terlihat jauh lebih tenang. “Pak, saya sudah capek nyanyi… perut juga sudah kenyang,” ujarnya sambil tersenyum.“Saya mau pulang.”
Permintaan itu disambut baik. Sebelum pulang, ia bahkan diberikan sedikit modal untuk melanjutkan hidupnya.
Para petugas yang menyaksikan malam itu masih menyimpan rasa heran.
Orang yang beberapa jam sebelumnya dianggap meresahkan warga, kini pulang dengan langkah ringan dan wajah cerah.
Malam itu, rumah dinas tak sekadar menjadi simbol kekuasaan. Ia menjadi ruang sederhana tempat sebuah pesan dipraktikkan secara nyata.
bahwa dalam menghadapi persoalan manusia, kadang pendekatan paling ampuh bukanlah kekerasan atau prosedur kaku, melainkan empati.
Sebuah cara sederhana untuk mengingatkan bahwa setiap orang,dalam kondisi apa pun,tetap layak diperlakukan sebagai manusia.Memanusiakan manusia(Paulhendri)














