PadangPanjang.Sinyalnews.com-Genap 20 Februari 2026, satu tahun duet kepemimpinan Hendri Arnis dan Allex Saputra memimpin Padang Panjang. Satu tahun yang menjadi etalase komitmen,dari janji kampanye menuju kerja nyata yang bisa dirasakan masyarakat.
Seratus hari pertama menjadi fondasi. Pendidikan, sosial, kesehatan hingga ekonomi disentuh dengan satu benang merah: keberpihakan kepada rakyat kecil dan penguatan identitas kota.
Pendidikan dan Keagamaan.Menjaga Marwah Kota
Program seragam gratis bagi siswa SD dan SMP menjadi simbol perhatian terhadap beban ekonomi keluarga. Penguatan Islamic Center Padang Panjang lewat pembenahan fasilitas dan kelas tahsin gratis mempertegas wajah religius kota ini.

Buya Hamidi menyebut arah pembangunan ini tidak sekadar administratif. “Ketika pendidikan agama dan pembinaan keluarga diperkuat, itu artinya pemerintah sedang menjaga fondasi moral generasi. Kota ini besar karena nilai, bukan hanya bangunan,” ujarnya.
Graha Disabilitas, Memberdayakan, Bukan Mengasihani
Peresmian Graha Disabilitas pada 28 Mei 2025 di kawasan Masjid Manarul Ilmi Islamic Center menjadi penanda kuat dalam 100 hari kerja. Graha ini menjadi ruang pengembangan kapasitas, kreativitas, sekaligus galeri karya penyandang disabilitas.
Sebanyak 129 penerima manfaat memperoleh bantuan dalam dua tahap berupa sembako, perlengkapan kebersihan diri, pakaian, hingga alat bantu. Dukungan dari STIS Bogor senilai hampir Rp28 juta juga disalurkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup layak.

Ketua PWI, Supriyanto, menilai langkah ini sebagai wujud keberanian menyentuh kelompok rentan.
“Graha Disabilitas bukan sekadar program simbolik. Ini langkah konkret. Tinggal konsistensi dan pengawasan agar benar-benar berkelanjutan,” katanya.
Pasar Padang Panjang.Simbol Ekonomi dan Kejayaan Kota
Di sektor ekonomi, perhatian publik juga tertuju pada keberlanjutan penataan Pasar Padang Panjang yang selama ini menjadi denyut utama perdagangan masyarakat.
Tokoh masyarakat, E. Dt Gindo Sinaro, mengingatkan bahwa pasar yang representatif itu dibangun pada masa kepemimpinannya dulu sebagai simbol kebangkitan ekonomi kota.
“Pasar Padang Panjang itu bukan sekadar tempat jual beli. Itu lambang kejayaan kota dan urat nadi ekonomi masyarakat kecil. Dulu kita bangun agar pedagang nyaman, pembeli aman, dan roda ekonomi berputar,” ujarnya.
Ia optimistis, dengan kembalinya Hendri Arnis memimpin, pembenahan pasar akan kembali menjadi prioritas.
“Mas Bro kembali. Tentu harapan kita, pasar ini dibenahi lagi, ditata lebih rapi, lebih bersih, dan lebih hidup. Kalau pasar kuat, ekonomi rakyat juga kuat,” tegasnya.
Sosial, Kesehatan dan Infrastruktur, Fondasi yang Diuji Waktu

Selain Graha Disabilitas dan perhatian pada pasar, Istana Lansia dan Sekolah Lansia memberi ruang produktif bagi warga lanjut usia. Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja rentan menjadi jaring pengaman sosial.
Program Golden Ages (1000 HPK) digulirkan untuk mencegah stunting sejak dini, sementara capaian Universal Health Coverage (UHC) 2025 menjadi bukti komitmen akses kesehatan yang merata.
Revitalisasi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) serta event budaya seperti Pacu Kuda dan Festival Serambi Merah Putih memperkuat identitas sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Satu tahun kepemimpinan bukan garis akhir, melainkan awal pengujian konsistensi. Dari seragam gratis hingga Graha Disabilitas, dari perlindungan pekerja rentan hingga harapan membenahi pasar, arah pembangunan mulai tergambar.
Kini publik menunggu,apakah fondasi ini akan menjelma lompatan besar di tahun kedua?Di Padang Panjang, waktu akan menjadi hakim paling jujur,dan masyarakat tetap menjadi penilai setia perjalanan kepemimpinan ini.(paulhendri)














