PadangPanjang.Sinyalnews.com-Hujan lebat disertai angin kencang mengguyur Kota Padang Panjang sejak siang, Senin (16/2/2026). Langit gelap seolah menjadi ujian sebelum dimulainya Reses Caturwulan I Anggota DPRD Kota Padang Panjang, H. Yandra Yane, SE, ketua Komisi 2 tepat pukul 13.00 WIB.
Namun badai cuaca tak mampu meredam antusiasme warga.
Dengan payung basah dan langkah tergesa, konstituen tetap berdatangan memadati salah satu cafe & resto di Kota Padang Panjang. Kursi-kursi terisi penuh. Ruangan sederhana itu menjadi saksi bagaimana rakyat kecil memilih hadir, meski hujanpad tak kunjung reda,demi menyampaikan harapan yang selama ini tertahan.
Usai sambutan, H Yandra Yane yang akrab di panggil H Rian Tanpa Nama, suasana berubah. Reses bukan lagi agenda formal, melainkan ruang curahan hati.
“Kenapa tak ada lagi bantuan UMKM kecil untuk usaha kami, Pak?” tanya Yusnita, membuka sesi dialog.
Pertanyaan itu seperti memecah bendungan. Desi Candra menyoroti sistem one way yang dinilai justru membuat pasar semakin macet tanpa berdampak pada peningkatan pendapatan pedagang. “Macet iya, tapi tak menambah income pasar,” ujarnya.
Fitri Yeni mengeluhkan penataan pasar yang kembali semrawut. “Waktu Pak Wali Kota turun, gang antar ruko dikosongkan, trotoar tak boleh jualan. Sekarang amburadul lagi, Pak. Kami yang jualan di dalam makin terabaikan. Orang lebih memilih beli di luar karena bebas,” keluhnya.
Yang paling menggetarkan, Firawati menyampaikan nasib pedagang kecil di sekitar sekolah yang terdampak program MBG. Sejak anak-anak mendapat makanan saat jam istirahat dan tak lagi diperbolehkan jajan, penghasilan mereka nyaris hilang.
“Sekarang anak-anak tak lagi jajan, Pak. Kami banyak yang berhenti jualan. Padahal itu untuk jajan sekolah anak-anak kami juga,” tuturnya lirih.
Keluhan juga menyentuh janji beasiswa pendidikan serta program pinjaman tanpa bunga bagi UMKM kecil yang hingga kini belum mereka rasakan.
“Sebagai partai pendukung Hendri–Allex, bapak tentu bisa memperjuangkan nasib kami. Bapak hadir di DPRD bukan mewakili masyarakat, tapi mewakili kepentingan masyarakat,” ujar seorang warga, disambut anggukan hadirin.
Menanggapi gelombang aspirasi itu, H. Yandra Yane yang juga wakil
Ketua partai DPD PAN PadangPanjang itu berdiri kembali. Suaranya tenang, namun tegas.
“Saya hadir di sini bukan hanya untuk mendengar, tapi untuk memperjuangkan. Semua yang disampaikan hari ini akan saya bawa ke forum resmi DPRD dan saya sampaikan langsung ke dinas terkait,” ujarnya.
Terkait bantuan UMKM yang belum merata, Yandra berjanji akan meminta data konkret agar program benar-benar menyasar pelaku usaha mikro.“Kita tidak boleh membiarkan UMKM kecil berjalan sendiri. Bantuan harus tepat sasaran,” tegasnya.S
Soal sistem one way dan penataan pasar, ia menyatakan akan mendorong evaluasi kebijakan.“Kalau kebijakan itu justru mematikan pasar, tentu harus kita evaluasi. Penertiban harus konsisten, bukan hanya saat pejabat turun,” katanya, disambut tepuk tangan.
Mengenai dampak program MBG terhadap pedagang kecil, ia menyebut perlu solusi agar program pemerintah tetap berjalan tanpa mematikan ekonomi warga.“Kita dukung program pemerintah, tapi ekonomi ibu-ibu juga harus tetap hidup. Kita cari jalan keluarnya bersama,” ucapnya.
Ia juga menegaskan komitmennya mengawal realisasi beasiswa pendidikan dan akses pinjaman tanpa bunga bagi UMKM kecil.“Kalau itu janji kampanye, maka wajib diperjuangkan. Tugas saya mengawal agar kebijakan benar-benar sampai ke masyarakat kecil,” katanya.
Di luar, hujan masih turun. Angin belum juga reda.
Namun di dalam ruangan itu, yang lebih terasa bukan lagi dingin cuaca, melainkan hangatnya harapan.
Reses siang itu bukan sekadar agenda legislasi. Ia menjadi ruang di mana suara UMKM kecil menggema lantang, menguji komitmen wakil rakyatnya. Di tengah badai yang mengguyur kota, rakyat kecil datang bukan untuk mengeluh semata,melainkan untuk memastikan janji tak sekadar menjadi kata.(Paulhendri)














