Padang Panjang.Sinyalnews.com-Fun Game Milleniq untuk kelas pebiliar pemula dan pelajar, Selasa 6 Januari 2026, berubah menjadi panggung drama yang menguras emosi. Laga final yang mempertemukan Firdaus (Marco) melawan Akbar berakhir tragis bagi Akbar,bukan karena ia kalah tanpa perlawanan, melainkan karena kemenangan yang sudah di depan mata harus lepas di detik paling menentukan.
Sejak awal, Akbar tampil dominan. Tiga game pertama ia sapu bersih, unggul 3–0, memperlihatkan ketenangan dan akurasi yang membuat pendukungnya percaya pertandingan akan berakhir cepat. Namun biliar bukan hanya soal angka, ia adalah ujian kesabaran dan konsistensi.
Memasuki game keempat, Firdaus mulai bangkit. Satu kemenangan pertama menjadi titik balik. Skor merapat 3–1, lalu 3–2, hingga Akbar kembali menjauh di game keenam dengan keunggulan 4–2. Di sinilah cerita berubah arah.
Merasa di atas angin, Akbar sedikit lengah. Game ketujuh, kesalahan kecil, bola lima yang “godek”, dimanfaatkan Firdaus dengan sempurna. Ia menghabiskan meja, skor berubah 3–4. Tekanan beralih. Akbar masih unggul, tetapi ritme sudah bukan miliknya.
Game kedelapan menjadi ujian mental. Firdaus bermain lebih hati-hati, sementara Akbar justru tertekan oleh keunggulannya sendiri. Firdaus mencuri angka, kedudukan imbang 4–4. Sorak penonton menegang, napas tertahan.
Penentuan datang di game kesembilan. Firdaus melakukan break, satu bola masuk. Ia memilih push karena bola dua tak terlihat jelas, posisi bola putih rapat dan tak ideal. Akbar mengambil inisiatif safety, memukul bola dua (biru) dengan keras, bola putih bersembunyi di balik bola tujuh (coklat). Namun pukulan itu terlalu kuat, bola dua menempel pada bola sembilan (kuning-putih). Celah tipis terbuka, cukup bagi peluang.
Firdaus membaca situasi. Pukulan pelan, sekadar memastikan bola dua tersentuh. Keajaiban terjadi: bola sembilan melaju lurus ke lubang dan masuk. Meja senyap sejenak, lalu pecah oleh sorak. Firdaus menang dramatis 5–4, membalikkan fakta yang sempat tampak mustahil.
Menuju final, Firdaus sebelumnya menyingkirkan Lutfi 4–1 di empat besar. Di sisi lain, Akbar melaju dengan meyakinkan usai menundukkan Habib 4–1. Keduanya layak berdiri di puncak, meski takdir akhirnya memilih satu.
Owner Biliar Nilam turun langsung menyerahkan piala, medali, dan uang pembinaan kepada champion dan runner-up. Dalam keterangannya, sang owner menegaskan makna turnamen ini.
“Fun Game Milleniq bukan sekadar kompetisi. Ini ruang belajar, tempat mental ditempa dan sportivitas dirawat. Kami bangga melihat anak-anak muda berani bertanding dan menerima hasil dengan lapang dada,” ujarnya.
Ketua POBSI, Dasril, menilai laga final sebagai cerminan kualitas pembinaan usia dini.“Pertandingan ini mengajarkan satu hal penting: fokus sampai bola terakhir. Inilah karakter atlet yang ingin kita lahirkan, teknik kuat, mental tangguh,” kata Dasril.
Sementara itu, Ketua Panitia Andre menyebut drama final justru menjadi pesan kuat bagi pelajar dan pemula.
“Hari ini kita belajar bahwa unggul bukan berarti aman. Biliar mengajarkan kesabaran, perhitungan, dan kerendahan hati. Terima kasih kepada semua pihak yang membuat acara ini hidup dan bermakna,” tuturnya.
Fun Game Milleniq pun menutup hari dengan satu pelajaran abadi, di meja hijau, kemenangan tak pernah selesai sebelum bola terakhir berhenti bergerak.(paulhendri)














