Padang Panjang.Sinyalnews.com — Di balik foto sederhana para relawan yang berdiri di halaman rumah seorang warga Ngalau Gadang, Bayang, Pesisir Selatan, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan yang tidak mudah. Relawan dari Perguruan Islam Jannatul Ma’wa menempuh jalanan terputus, jembatan patah, serta jalur licin bekas longsor demi memastikan bantuan dari para donatur benar-benar tiba ke tangan korban longsor dan banjir bandang.
Pagi itu, udara masih lembab. Aroma tanah basah bercampur dengan dingin yang tersisa dari hujan malam sebelumnya. Mobil para relawan harus berhenti beberapa kali, bukan karena mereka lelah, tapi karena jalan yang mereka lalui berkali-kali “menguji” keberanian. Ada titik yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, membawa paket bantuan di punggung, sementara sisa batang kayu besar masih berserakan di sisi alur sungai.
Namun wajah-wajah lelah itu berubah menjadi cahaya syukur ketika akhirnya mereka tiba di Ngalau Gadang. Di sanalah beberapa warga, para korban yang kehilangan rumah, ladang, dan sebagian harta, menyambut kedatangan para relawan dengan mata yang berkaca-kaca. Seorang ibu memegang erat amplop bantuan sambil menunduk dalam haru. Di sampingnya, seorang lelaki tua dengan selendang kusam mengucapkan terima kasih berulang-ulang, seakan tak cukup kata untuk menampung lega yang ia rasakan.
Di balik keberhasilan penyaluran bantuan itu, ada suara yang lebih pelan namun sangat berarti, suara dari para donatur yang ikut merasakan betapa berat medan yang ditempuh relawan. Salah seorang donatur yang meminta namanya tidak disebutkan memberikan pengakuan yang menggugah.
“Melihat bagaimana sulitnya para relawan pesantren Jannatul Ma’wa pergi menyalurkan bantuan, saya merasa kalau kami yang pergi, rasanya tidak sanggup. Mereka menembus medan berat tanpa imbalan apa pun, yang mereka inginkan hanya ridho dari Allah. Itu yang membuat kami yakin bahwa bantuan ini sampai dengan penuh keikhlasan.”
Atas nama seluruh pengurus, para relawan menyampaikan pesan yang menjadi penutup dari perjalanan panjang mereka:“ Akhirnya kami atas nama pengurus Perguruan Islam Jannatul Ma’wa mengucapkan terima kasih, jazakumullahu khairan katsira kepada sanak saudara, handai tolan, atas bantuannya, baik materil maupun moril, sehingga dapat tersampaikan kepada saudara kita seiman di Ngalau Gadang, Bayang, Pesisir Selatan. Semoga Allah menjaga keikhlasan kita dalam beramal, membalas dengan yang lebih baik, dan menjadikannya pemberat amal kebaikan kita. Aamiin ya Mujibas Saailiin.”
Perjalanan itu tidak sekadar pengantaran bantuan. Ia adalah wujud bahwa solidaritas umat tidak mengenal jarak. Bahwa di tengah puing, lumpur, dan duka, ada tangan-tangan ikhlas yang datang membawa harapan. Relawan pulang dengan tubuh letih, namun hati penuh, karena mereka tahu sedikit tenaga yang dicurahkan telah berubah menjadi kekuatan bagi saudara-saudara yang sedang bangkit dari musibah.(Paulhendri)














