Home / ARTIKEL / BERITA / DAERAH / EKONOMI / KOTA PADANG PANJANG / SUMBAR / UMKM

Monday, 24 November 2025 - 12:36 WIB

EDITORIAL “Di Bawah Atap yang Bocor, Pemerintah Kota Justru Membuka Payung untuk Dirinya Sendiri”

PadangPanjang,Sinyalnews.com-Di Padang Panjang hari ini, kebijakan publik seolah kehilangan moralnya. Atap tempat hidup ribuan pedagang, yang datang sebelum subuh, sebelum matahari terbit, sementara para pejabat masih terlelap,dibiarkan bocor, lapuk, dan berbahaya. Namun SPPD justru mengalir deras setiap pekan, seperti sungai kecil yang tak pernah kering. Bahkan yang paling ironis, publik justru disuguhi pemandangan rombongan “ibunda ratu” dan ibu-ibu PKK melancong ke Palembang. Di saat keringat rakyat menetes di lantai pasar, pemerintah memilih berjalan-jalan di luar daerah dengan dana yang tak sedikit.

Inikah wajah efisiensi yang mereka janjikan?

Mereka berdalih efisiensi. Mereka bicara pengetatan anggaran. Mereka berkata prioritas harus disesuaikan. Tetapi yang dipangkas justru kebutuhan paling mendasar: atap tempat hajat hidup orang banyak. Sementara itu, perjalanan dinas,yang entah hasil akhirnya, entah urgensinya,tak pernah berhenti bergulir.

Baca Juga :  Serap Aspirasi Warga, Anggota DPRD Sumbar Irwan Zuldani Gelar Reses di Kuranji

Pedagang kecil yang datang sebelum azan subuh pun tahu: ini bukan soal uang, ini soal kemauan.Kalau pemerintah mau, atap itu sudah lama dibenahi.
Kalau pemerintah peduli, pedagang tidak perlu lagi berdiri di bawah bocor air hujan sementara dagangan basah kuyup.
Kalau pemerintah punya hati, mereka yang bekerja sebelum fajar tidak akan terus-menerus diperlakukan seperti subjek kelas dua.

Ketua Komisi II H. Yandra Yane sudah mengingatkan keras: “Jangan sampai kebijakan kota ini memukul balik masyarakat kecil hanya karena pemerintah gagal mengatur prioritasnya sendiri.” Namun suara itu seperti bergema di ruang kosong.

Tokoh adat Kota Padang Panjang pun menegaskan, “Pemerintah yang baik itu turun melihat rakyatnya, bukan sibuk berjalan ke negeri orang ketika rumah sendiri bocor.” Kalimat sederhana, tapi menampar.

Pertanyaan yang paling telak, yang sayangnya tak kunjung dijawab:
– Kalau anggaran untuk jalan-jalan rombongan bisa disetujui, ditandatangani, dan dicairkan,kenapa satu atap untuk tempat hidup pedagang tidak pernah selesai dibenahi?
– Mengapa hajat hidup orang banyak harus menunggu, sementara hajat-hajat perjalanan justru diprioritaskan?
– Siapa sebenarnya yang dilayani pemerintah kota,rakyat atau kelompok kecil yang dekat dengan kekuasaan?

Baca Juga :  Kunjungi Satgas Indobatt, Komandan Sektor Timur Apresiasi Profesionalisme Prajurit Garuda

Editorial ini tidak sedang mencari sensasi. Ini adalah suara publik yang sudah terlalu lama menahan kecewa.
Pedagang sudah bersuara. Tokoh adat sudah bicara. Komisi DPRD sudah mengingatkan.
Yang belum bersuara hanyalah satu: keberanian pemerintah mengakui bahwa prioritas mereka selama ini keliru.

Karena sampai hari ini, di bawah atap bocor yang tak kunjung diperbaiki, rakyat belajar satu hal. Pemerintah kota selalu punya payung untuk dirinya sendiri, tapi tidak pernah punya atap untuk rakyatnya.(Paulhendri)

Share :

Baca Juga

BERITA

Dua Orang diamankan Polisi, Ribuan Warga Gruduk Kantor KPU Pessel

ARTIKEL

Terus Jaga Hubungan Baik, Babinsa Koramil 02/Timika Komsos Dengan Warga Binaan

BERITA

Sebulan Memimpin, Maria Tak Beri Waktu PMI Berhenti: Dari Ruang Kelas ke Medan Kemanusiaan

ARTIKEL

Kejagung Memeriksa 1 Orang Saksi Terkait Perkara PT. Waskita Karya

ARTIKEL

Tak Sekedar Tugas, Ini Tentang Nurani

ARTIKEL

 Panglima TNI Menerima Audiensi Menteri ATR/BPN

BERITA

Kampung KB Bajamba TPL Padang Panjang Raih Penghargaan Juara Harapan II Nasional

ARTIKEL

Kapolres Pasaman Barat Gelar “Jumat Curhat” Untuk Dengarkan Keluhan Masyarakat