Home / BERITA / KOTA PADANG PANJANG

Thursday, 7 August 2025 - 17:53 WIB

Penyegelan Kios dan Sepinya Pasar, Walikota Padang Panjang Undang Pedagang untuk Audiensi

Padang Panjang,Sinyalnews.com-Deretan kios di Pasar Pusat Padang Panjang terlihat sepi, sebagian bahkan telah disegel karena tak kunjung
dibuka. Fenomena ini memicu kekhawatiran atas menurunnya daya tarik pasar yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas ekonomi warga kota dan sekitarnya.

Sebagai langkah tanggap, Walikota Padang Panjang, Hendri Arnis, mengundang para pedagang untuk melakukan audiensi terbuka di Rumah Dinas Walikota, Rabu sore (7/8). Pertemuan ini membahas strategi konkret untuk kembali menggairahkan pasar, serta mencari solusi dari sejumlah persoalan yang membuat pedaganga enggan berjualan.

“Kita tidak bisa biarkan pasar terus sepi. Ini bukan hanya soal pedagang, tapi juga soal denyut ekonomi kota ini. Saya ingin mendengar langsung apa kendala dan harapan pedagang,” kata Walikota Hendri Arnis dalam pertemuan yang juga dihadiri wawako ,sekda ,kepla pasar dan asisten tersebut.

Salah satu pedagang senior yang sudah berjualan sejak era 1980-an, Mak Eri (63 tahun), menceritakan betapa ramainya Pasar Padang Panjang di masa lalu. Ia dulu berdagang pakaian dan sembako, dan kini hanya membuka lapak seminggu sekali karena sepinya pengunjung.

“Dulu orang dari Maninjau, Solok, Pasaman, bahkan dari Dharmasraya pun belanja ke sini. Pasar Padang Panjang itu pusat grosir. Kami bisa jual habis satu karung dalam sehari. Sekarang jangankan satu karung, satu hari itu kadang uang yang ada amblas .karena dagangan pun belum tentu laku,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia menyayangkan kondisi pasar saat ini yang semakin jauh dari masa keemasannya.

Baca Juga :  Gasak Dana Nasabah, Supervisor Koperasi di Pekalongan Harus Berurusan Dengan Polisi

“Pasar itu dulu hidup karena rasa kebersamaan dan dukungan pemerintah. Sekarang kami seperti ditinggal, hanya disuruh bayar, tapi tak diperhatikan,” ucap Mak Eri lirih.pada media ini

Sore menjelang magrib itu, aqudiensi berlangsung cukup terbuka dan dinamis. Para pedagang menyampaikan keluhan soal penempatan kios yang tak strategis, minimnya promosi pasar, hingga rendahnya daya beli masyarakat. Beberapa juga menyoroti ketatnya regulasi dan biaya yang membuat pedagang kecil tak mampu bertahan.

Salah seorang pedagang, Yonrizal (58), mengaku bahwa lokasi kios yang ia tempati tidak menguntungkan. “Sudah setahun lebih saya buka, tapi pembeli hampir tak ada. Lama-lama habis modal. Sekarang malah disegel,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Walikota berjanji akan meninjau ulang kebijakan pengelolaan pasar, termasuk kemungkinan melakukan relokasi kios, promosi terpadu, serta pembinaan UMKM agar pasar kembali menjadi magnet ekonomi.

“Kita akan bentuk tim kecil dari pedagang dan dinas terkait untuk menyusun langkah percepatan dalam dua minggu ke depan,” tegas Hendri Arnis.

Sementara itu, penyegelan beberapa kios yang tak aktif disebut sebagai langkah administrasi agar tidak terjadi pembiaran fasilitas publik mangkrak. Namun pihak Pemko menyatakan masih terbuka untuk mediasi jika pedagang bersedia kembali berjualan.

Baca Juga :  Sekjen Satrio : SatuPena Sumbar Sudah Dijalur yang Benar, Banyak Kegiatan

Situasi ini menjadi peringatan bagi Pemko dan seluruh pemangku kepentingan, bahwa pembangunan fisik saja tidak cukup. Pasar harus hidup, dan itu hanya bisa terwujud jika ada keberpihakan, strategi jitu, dan kepercayaan pedagang.

Di Tempat terpisah Tokoh masyarakat dan pemerhati sejarah kota yang juga pengacara Romi Martianus, SH, mengingatkan bahwa Pasar Padang Panjang pernah menjadi ikon ekonomi yang sangat disegani di Sumatera Barat, bahkan dikenal hingga ke provinsi tetangga.

“Dulu Pasar Padang Panjang sangat berjaya. Ia bukan sekadar pasar kota kecil, tapi menjadi pusat grosir utama untuk wilayah Sumatera Tengah, dari Bukittinggi, Solok, hingga sebagian Jambi dan Riau. Truk-truk dari luar daerah antri masuk setiap hari. Tapi sekarang, yang tersisa hanya kenangan dan kios-kios kosong,” ujar Romi dengan nada prihatin.

Ia juga menambahkan bahwa kejayaan itu bukan hadir tiba-tiba, melainkan buah dari penataan yang baik, iklim ekonomi yang sehat, serta kebijakan pemerintah yang berpihak pada pedagang dan pembeli.

“Kalau sekarang pasar sepi, bukan karena masyarakat tak butuh, tapi karena kita kehilangan roh pengelolaan yang manusiawi dan visioner. Pasar harus dikelola seperti ekosistem, bukan sekadar bangunan bertingkat dan retribusi,” pungkas pengacara itu(.paulhendri)

 

Share :

Baca Juga

SEPAK BOLA

Di Meja Kopi HPN, Panda Nababan Menitipkan Elektika Kekuasaan untuk Hendri Arnis

ARTIKEL

Dorong Semangat Baru di Tubuh TNI, 6 Jabatan Strategis Diserahterimakan

BERITA

Kabar Gembira Buat Tenaga Honorer Penghapusan Tenaga Honorer atau Non ASN November 2023 Dibatalkan

BERITA

Bakamla RI Kolaborasikan Pengawasan Intern APIP Instansi Terkait dalam Rakorwas 2024

BERITA

Seorang Jamaah Haji Kloter 1 Embarkasi Padang Meninggal Dunia di RS AnNur Makkah

ARTIKEL

Penanaman Bibit Pohon Bersama Mahasiswa KKN MB UINWS Dan Masyarakat Desa Pejambon

ARTIKEL

Danramil Tembagapura Beri Pesan Damai Saat Pemilu 2024 Mendatang Kepada Warganya Saat Hadiri Acara Adat Bakar Batu

ARTIKEL

Irjen TNI Buka Simulasi Penerapan Hukum Dalam Operasi Militer Selain Perang