Home / BERITA / NASIONAL / PERISTIWA / SINYAL HIKMAH

Sunday, 18 June 2023 - 07:23 WIB

Menilik Hubungan antara Pesantren Al Zaitun dan Gerakan NII

Sinyalnews.com – Prof. Dr. (HC) Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, dikenal sebagai Panji Gumilang, adalah orang pertama yang mendirikan Yayasan Pesantren Indonesia sebelum mendirikan Pondok Pesantren Al-Zaytun pada 13 Agustus 1996. Nama Panji Gumilang beberapa kali menuai kontroversi, menurut catatan. Beberapa publikasi sering mengaitkan nama Panji Gumilang dengan gerakan Darul Islam / NII KW9, yang dipimpin oleh Abu Toto, yang diduga menggunakan nama alias Panji Gumilang.

Organisasi NII sendiri resmi dibubarkan selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Panji, yang bertanggung jawab atas Ponpes Al-Zaytun, bagaimanapun, menyatakan dengan jelas bahwa dirinya adalah Abu Toto. Di tahun 2017, Panji Gumilang sempat bermasalah dengan guru-guru di Ponpes Al Zaytun karena dia diduga telah menghina dan melakukan pelecehan terhadap mereka. Akibatnya, 117 guru tidak dapat mengajar di Ponpes Al Zaytun karena mereka belum mengajukan surat yang diminta oleh Panji Gumilang. Pada tahun 2021, kontroversi berlanjut ketika Panji Gumilang dilaporkan oleh mantan pegawai Ponpes Al Zaytun atas dugaan pencabulan terhadap pegawai berinisial K. Namun, kasus dugaan pencabulan belum dilaporkan sampai saat ini. Polisi masih belum menemukan solusi.

Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid, Direktur Pencegahan BNPT, berharap Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengeluarkan fatwa yang menganggap ideologi Negara Islam Indonesia (NII) dan ideologi takfiri lainnya sebagai sesat.

Baca Juga :  Mengaku Didzalimi Saat Ditahan Polisi. Ini Penjelasan Kabidhumas Polda Jateng

Apa yang dimaksud dengan ideologi takfiri radikal atau gerakan takfiri?

Gerakan Takfiri, yang diucapkan dalam bahasa Arab sebagai “تكفيري takfīrī”, adalah istilah yang digunakan untuk menyebut sekelompok orang yang gemar menyebut muslim lain diluar selompoknya sebagai kafir dan murtad hanya disebabkan tidak mau bergabung di kelompoknya, atau menuduh tidak murni Islamnya dan diragukan keimanannya.

Kenapa takfiri itu salah/sesat?… Sebab Tidak sedikit penganut ajaran takfiri ini menuduh kaum muslimin di luar kelompoknya sebagai kafir, dan ada yang lebih ekstrim dengan menganggap harta orang di luar kelompoknya dapat dirampas sebagai ghanimah, meskipun harga orang tua atau saudara kandung. Takfiri akan mendorong tindak kekerasan sektarian, bahkan dapat menyebabkan pecah perang, seperti yang terjadi di Suriah 2011.

Takfri bertentangan dengan intisari ajaran Nabi. Ajaran Rasulullah bertujuan untuk memberi jalan hidayah bagi orang kafir. Sebagaimana tercatat dalam sejarah tidak sedikit sahabat nabi bermula dari kaum kafir yang demen memerangi Nabi, sebagian mereka juga suka mabuk, membunuh, makan barang haram, dan melakukan berbagai tindakan jahat. Namun ketika mereka menyadari bertaubat lalu  bersyadahat di hadapan Nabi dan kaum muslimin, seketika mereka menjadi seorang muslim dan dikatakan gugur semua dosa-dosanya.

Baca Juga :  Kepala UPTD Logam ucapkan Selamat Menempuh Hidup Baru buat "Ela dan Dio" 

Takfiri akan menjadi paradok ketika dengan dua kalimat syahadat seseorang menjadi muslim, sementara ada orang yg sudah muslim sejak kecil dianggap kafir sekadar disebabkan tidak bergabung dalam sekte atau kelompoknya.

Konferensi internasional yang diadakan pada Februari 2021, ulama internasional mengatakan bahwa ekstremisme, juga dikenal sebagai radikalisme, adalah paham yang didasarkan pada penggunaan dan penyimpangan agama. hal yg sama, Buya Yahya berpendapat bagaimana faham takfiri ini muncul bermula dari kesombongan dan sakit hati.

Lebih lanjut, Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid menyatakan bahwa hal tersebut juga berkaca dari kasus baru-baru ini di Garut di mana diduga 59 anak dibaiat oleh NII. Menurutnya, fatwa tersebut diperlukan untuk membangun resistensi sosial, yang pada gilirannya dapat mendorong undang-undang yang melarang kepercayaan atau paham-paham keagamaan radikal tersebut di Indonesia.

Dia menyatakan bahwa para tokoh agama dapat mencapai tujuan ini dengan menerapkan moderasi beragama, moderasi berbangsa, nasionalisme, wawasan kebangsaan, nilai-nilai luhur bangsa, dan nilai-nilai sejarah bangsa melalui pendekatan agama. Dia berpendapat bahwa upaya tersebut harus dilakukan melalui pendekatan agama karena selama ini kelompok radikal selalu memanipulasi agama, membentur-benturkan atau mendikotomikan agama dan negara, agama dan budaya, atau agama dan nasionalisme. (js).

Share :

Baca Juga

BERITA

Yuk Semarakkan Kompetisi Walikota Cup Tingkat Pelajar Kota Pekalongan 2023

ARTIKEL

Temu Ramah Bersama Kakanwil, Edy Oktafiandi Laporkan Sederetan Prestasi Tingkat Nasional dan Internasional Diraih Kemenag Kota Padang

ARTIKEL

Dugaan Korupsi BTS Kominfo, Kejagung Periksa 2 Saksi

ARTIKEL

Pelayanan Disorot Ulah Oknum Security, Rico Minta Direktur RSUD Perbaiki Pelayanan Umum dan Medis!

BERITA

Kapolri Kirim Surat Lagi ke KPK, Tugaskan Brigjen Endar Priantoro jadi Direktur Penyelidikan

BERITA

Menilik Spiritual Calon DPR RI Sumbar

ARTIKEL

BELIEVE – Takdir, Mimpi, dan Keberanian (Film Laga Perang Terbesar 2025 yang Menyuarakan Semangat Sejarah, Jiwa Kebangsaan, dan Nilai Religius)

BERITA

Serma Idham Hermanto Rawat, Bersihkan Tanaman Cabe di Sungai Rimbang