Home / ARTIKEL / BUDAYA / DAERAH / KOTA PADANG / SUMBAR

Thursday, 17 September 2026 - 22:41 WIB

PAUH SI 14: JEJAK PERANG MELAWAN VOC HINGGA DIKENANG SEBAGAI TANAH PARA PEJUANG

Mengembalikan Ingatan tentang Pauh yang Dahulu Membentang dari Perbukitan hingga Wilayah Hadapan Padang

PADANG SINYALNEWS.COM — Ketika hari ini orang menyebut Pauh, sebagian masyarakat mungkin langsung teringat kepada Pauh V. Nama tersebut memang begitu melekat dalam pemahaman administratif masyarakat modern.

Namun, jika membuka kembali lembaran sejarah, Pauh sesungguhnya memiliki bentang wilayah dan perjalanan sejarah yang jauh lebih panjang.

Jauh sebelum pembagian administratif seperti sekarang, dikenal istilah Pauh Si 14—sebuah kesatuan kawasan yang dalam berbagai riwayat sejarah lokal disebut terdiri atas empat belas bagian wilayah.

Lima berada di kawasan atas atau perbukitan, sementara sembilan lainnya berada di kawasan bawah yang lebih dekat dengan Padang.

Bagian sembilan inilah yang kemudian dikenal dalam ingatan sejarah sebagai Pauh IX.

Karena itu, memahami Pauh hanya berdasarkan batas administratif masa kini berisiko membuat masyarakat kehilangan gambaran mengenai bentang sejarah Pauh pada masa lalu.

Ketika Pauh Berhadapan dengan VOC

Pada abad ke-17, Padang berkembang menjadi salah satu pusat penting aktivitas VOC. Kepentingan VOC tidak hanya berkaitan dengan perdagangan, tetapi juga dengan pengaruh politik dan penguasaan wilayah strategis.

Di sekitar Padang terdapat kawasan-kawasan yang memiliki masyarakat, pemimpin, dan kekuatan sosial sendiri.

Salah satunya adalah Pauh.

Hubungan antara kekuatan VOC dengan masyarakat Pauh kemudian berkembang menjadi ketegangan dan perlawanan.

Dalam perspektif masyarakat setempat, persoalannya bukan semata-mata mengenai kekuasaan. Ia berkaitan dengan tanah, kampung, kehidupan masyarakat dan hak menentukan masa depan sendiri.

Dari konteks inilah kisah Perang Pauh menjadi bagian penting dalam sejarah kawasan Padang dan Sumatera Barat.

Tahun 1666: Perlawanan Pauh

Tahun 1666 sering disebut sebagai salah satu momentum penting dalam sejarah hubungan Pauh dengan VOC.

Dalam riwayat yang berkembang mengenai perang tersebut, VOC mengirim ekspedisi militer untuk menghadapi kekuatan Pauh. Ekspedisi itu dikaitkan dengan nama Jacob Gruys.

Kekuatan VOC datang dengan organisasi militer dan persenjataan yang jauh lebih teratur.

Namun, mereka menghadapi masyarakat yang memiliki keunggulan lain: penguasaan terhadap medan dan pengetahuan mengenai wilayah tempat pertempuran berlangsung.

Pertempuran kemudian pecah.

Dalam sejumlah riwayat sejarah, pasukan Pauh berhasil memberikan perlawanan keras sehingga ekspedisi VOC mengalami kerugian besar. Jacob Gruys disebut tewas bersama sejumlah perwira dan serdadu VOC.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu episode yang memperlihatkan bahwa penguasaan militer VOC di sekitar Padang tidak selalu berjalan mudah.

VOC Kembali dengan Kekuatan Lebih Besar

Kekalahan tersebut tidak membuat VOC menghentikan upayanya.

Baca Juga :  Dikukuhkan, Tim Pemenangan Mahyeldi-Vasko Resmi Bertugas

Ekspedisi berikutnya disiapkan dengan kekuatan yang lebih besar. Dalam berbagai catatan sejarah, komando ekspedisi berikutnya dikaitkan dengan Jacob Verspreet.

VOC tidak hanya mengandalkan kekuatan militer.

Strategi politik juga digunakan. Hubungan dengan kelompok-kelompok lokal, penguasaan wilayah sekitar dan upaya melemahkan jaringan pendukung Pauh menjadi bagian dari strategi menghadapi perlawanan.

Dengan demikian, konflik tersebut tidak semata-mata berupa perang terbuka.

Ia juga menjadi pertarungan pengaruh, kekuasaan dan kemampuan mempertahankan dukungan masyarakat.

Pauh Si 14 dan Ingatan 14 September 1666

Dalam tradisi sejarah yang berkembang di tengah masyarakat Pauh, 14 September 1666 menjadi salah satu tanggal yang penting untuk dikenang.

Pada masa tersebut, Pauh dipahami bukan sebagai satu titik wilayah sebagaimana batas administratif sekarang.

Pauh merupakan sebuah bentang kawasan yang terdiri atas beberapa bagian wilayah.

Lima berada di kawasan atas, sedangkan sembilan berada di kawasan bawah.

Karena itu, istilah Pauh Si 14 menjadi penting untuk memahami bahwa sejarah Pauh memiliki cakupan wilayah yang lebih luas daripada pembagian administratif modern.

Di dalam bentang itulah Pauh IX menempati posisi penting sebagai bagian dari kawasan bawah yang secara geografis lebih dekat dengan Padang.

Perlawanan dan Kehancuran Kampung

Pertempuran yang berlangsung kemudian membawa penderitaan bagi masyarakat.

Dalam kisah sejarah perang tersebut, tindakan militer VOC tidak hanya diarahkan kepada pasukan lawan, tetapi juga terhadap kawasan yang dianggap menjadi basis perlawanan.

Kampung-kampung mengalami kerusakan.

Rumah dan persediaan pangan menjadi sasaran.

Tindakan semacam itu bertujuan melemahkan kemampuan masyarakat untuk mempertahankan perlawanan.

Namun, kehancuran fisik tidak serta-merta menghapus ingatan masyarakat.

Justru dari berbagai episode perlawanan itulah kemudian tumbuh ingatan kolektif mengenai keberanian masyarakat Pauh menghadapi kekuatan kolonial.

Dari Pauh Si 14 ke Pauh Masa Kini

Sejarah kemudian berjalan bersama perubahan zaman.

Sistem pemerintahan berubah.

Batas wilayah berubah.

Nama administratif juga berubah.

Kawasan yang dahulu dipahami sebagai bagian dari satu kesatuan Pauh kemudian berkembang menjadi wilayah-wilayah dengan administrasi masing-masing.

Karena itu, Pauh V, Pauh IX maupun kawasan yang sekarang berada dalam wilayah Kuranji tidak semestinya dilihat sebagai sejarah yang terpisah-pisah.

Semuanya dapat dipahami sebagai bagian dari perjalanan panjang sejarah Pauh.

Pauh IX khususnya menyimpan ingatan sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Pauh sebagai kawasan yang dahulu memiliki cakupan lebih luas.

Rusli Amran dan Jejak Sejarah Pauh

Pembahasan mengenai sejarah Sumatera Barat juga tidak dapat dilepaskan dari karya Rusli Amran.

Baca Juga :  Kabidhumas Polda Kepri Jadi Narasumber dalam Kegiatan Sosialisasi Pencegahan TPPO dan Penempatan PMI Non-prosedural

Bukunya, Sumatra Barat hingga Plakat Panjang, diterbitkan oleh Sinar Harapan pada 1981 dan memiliki 652 halaman. Katalog perpustakaan nasional/daerah mencatat buku tersebut sebagai karya sejarah mengenai Sumatera Barat.

Kajian mengenai karya Rusli Amran juga menunjukkan bahwa ia banyak menggunakan sumber dan arsip dalam menelusuri sejarah Sumatera Barat, termasuk hubungan masyarakat Minangkabau dengan kekuatan kolonial.

Karena itu, sejarah Pauh perlu terus dibaca bersama sumber-sumber sejarah lainnya, termasuk arsip kolonial, karya sejarah lokal, tambo, penelitian akademik dan tradisi lisan masyarakat.

Mengapa Pauh Layak Disebut Tanah Para Pejuang?

Nilai penting sejarah Pauh bukan terletak pada romantisasi perang.

Perang selalu membawa penderitaan.

Ada rumah yang hancur.

Ada harta yang hilang.

Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.

Tetapi dari sejarah tersebut dapat dipelajari satu hal penting: masyarakat Pauh pernah menghadapi kekuatan kolonial yang jauh lebih terorganisasi dan bersenjata.

Perlawanan itu kemudian menjadi bagian dari ingatan sejarah masyarakat.

Karena itu, penyebutan Pauh sebagai “kota pahlawan” harus dipahami sebagai ungkapan yang lahir dari memori tentang perjuangan dan perlawanan masyarakat Pauh, bukan semata-mata sebagai status administratif resmi.

Jangan Biarkan Pauh Kehilangan Ingatannya

Hari ini kita hidup dalam batas kecamatan, kelurahan dan administrasi pemerintahan yang berbeda dengan masa lalu.

Itu adalah kenyataan zaman.

Namun, perubahan administratif tidak seharusnya menghapus sejarah.

Ketika menyebut Pauh, kita tidak hanya berbicara tentang sebuah kecamatan atau kelurahan.

Kita sedang berbicara tentang sebuah kawasan yang memiliki perjalanan sejarah panjang.

Tentang Pauh Si 14.

Tentang Pauh IX.

Tentang masyarakat yang pernah berhadapan dengan kekuatan VOC.

Tentang kampung-kampung yang pernah menjadi bagian dari pusaran peperangan.

Dan tentang keberanian masyarakat mempertahankan tanah tempat mereka hidup.

Sejarah itu tidak untuk membangkitkan permusuhan terhadap masa lalu.

Sejarah juga bukan untuk mengagungkan perang.

Sejarah adalah cara sebuah masyarakat mengenali siapa dirinya.

Maka, ketika hari ini kita menyebut Pauh, jangan hanya melihat batas administratifnya.

Ingatlah Pauh Si 14.

Ingatlah bahwa di dalam perjalanan sejarahnya terdapat Pauh IX.

Ingatlah bahwa kawasan tersebut pernah menjadi bagian dari bentang perlawanan terhadap VOC.

Dan ingatlah bahwa dari tanah itu lahir sebuah ingatan kolektif tentang keberanian, keteguhan dan marwah masyarakat.

Pauh bukan sekadar nama tempat.

Pauh adalah warisan sejarah.

Pauh adalah ingatan tentang keberanian.

Pauh adalah tanah para pejuang.

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Buka Rakerda Apersi, Gubernur Mahyeldi Ingin Kuantitas dan Kualitas Perumahan bagi Warga Sumbar Terus Ditingkatkan

ARTIKEL

Bupati Hamsuardi Melantik Anggota Bamus Se-Kecamatan Lembah Melintang Periode 2023/2029

BERITA

Tiga Pilar Desa Maoskidul Bersinergi Amankan Lebaran 2023

BERITA

ONE WAY LAWAN LAMPU MERAH, PEDAGANG MERUGI , DPRD DIAM SAJA

ARTIKEL

Panglima TNI Terima Kunjungan Komandan Jenderal Angkatan Darat AS Wilayah Pasifik

ARTIKEL

Pimpinan Redaksi Sinyalgonews.com Marlim Jalani Operasi Mata di Rumah Sakit Mata Sumbar

BERITA

Semarakan Agustusan Warga Rw.09 Papcy Kel.Ampang-Padang Gelar Jalan Santai dan Perlombaan

ARTIKEL

Menhan Prabowo Melakukan Pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di Rusia