Home / BERITA / BUDAYA / DAERAH / KOTA PADANG PANJANG / PERISTIWA / SUMBAR

Saturday, 22 August 2026 - 23:14 WIB

Ketika Makanan Serba Cepat Datang, Tanah Hitam Memilih Menyalakan Kembali Tungku Kayu

PadangPanjang.Sinyalnews.com—Api kecil itu menyala di bawah sebuah balango. Kayu bakar perlahan menjadi bara. Asap mengepul, sementara bumbu dan cabai dimasak dengan sabar.

Di zaman ketika makanan bisa dipesan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar telepon, 53 kelompok di Kelurahan Tanah Hitam, Kecamatan Padang Panjang Barat, memilih cara yang berbeda. Mereka kembali memasak seperti orang-orang tua mereka dahulu.

Sabtu (22/8/2026), kawasan Bukik Tui Barasok dipenuhi aroma sambalado tanak. Para peserta memasaknya menggunakan kayu bakar dan balango, mengenakan baju kurung basiba. Sebuah cara sederhana yang barangkali terlihat biasa, tetapi menyimpan sesuatu yang mulai langka: kesediaan untuk mempertahankan tradisi ketika zaman bergerak semakin cepat.

Kegiatan itu digelar dalam rangkaian Bukik Tui Barasok untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun yang dipertaruhkan hari itu bukan sekadar siapa yang menghasilkan sambalado tanak paling enak.

Ada warisan yang sedang dicoba untuk tidak putus. Sambalado tanak adalah bagian dari masakan Minangkabau yang lahir dari dapur-dapur rumah, jauh sebelum makanan cepat saji dan berbagai hidangan kekinian memenuhi ruang publik. Ia tidak mengenal proses serba instan. Bahan dimasak perlahan, dengan peralatan sederhana dan api kayu.

Baca Juga :  Babinsa Koramil 07/Maos Hadiri Kirab Budaya Grebeg Suro

Cara memasak semacam itu bukan hanya menghasilkan rasa. Ia juga mewariskan pengetahuan.

Bagaimana memilih bahan. Bagaimana mengatur api. Bagaimana mengetahui masakan telah matang tanpa ukuran yang tertulis. Dan yang paling penting, bagaimana sebuah resep berpindah dari tangan orang tua kepada anak-anaknya.

Di Tanah Hitam, pengetahuan itu sengaja dibawa keluar dari dapur rumah dan dipertontonkan kepada masyarakat.

Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali kebudayaan kepada generasi muda.

“Tadi kita juga melihat ada beberapa peserta yang masih gadis-gadis. Ini memberikan ilmu kepada anak-anak muda kita tentang bagaimana kebudayaan kita di masa lalu, salah satunya memasak Sambalado Tanak,” ujarnya.

Pernyataan itu menemukan maknanya di antara tungku-tungku kayu yang menyala.
Sebab sebuah tradisi tidak akan bertahan hanya karena pernah dilakukan oleh generasi terdahulu. Ia bertahan apabila generasi berikutnya masih bersedia mempelajarinya.

Di situlah tantangannya.
Perubahan selera, makanan siap saji dan budaya kuliner yang bergerak cepat membuat banyak masakan tradisional berhadapan dengan pertanyaan sederhana: siapa yang akan memasaknya kelak?

Tanah Hitam mencoba menjawabnya dengan cara yang sederhana pula.

Baca Juga :  Musdafirman Dt.Rajo Diguci Tetapkan Alamat Kantor DPRD Kota Padang Yang Baru Di Sungai Sapih Kecamatan Kuranji Padang

Menyalakan api. Memasak. Dan memperlihatkan kepada anak-anak muda bahwa sebelum segala sesuatu menjadi cepat, orang-orang dahulu memiliki cara sendiri untuk menikmati makanan,dengan waktu, kesabaran dan kebersamaan.

Bukik Tui Barasok pun tidak berhenti pada lomba memasak. Masyarakat turut mengikuti Makan Bajamba, berbagai perlombaan anak-anak, layanan Cek Kesehatan Gratis melalui Puskesmas Kebun Sikolos, pelayanan pembayaran pajak serta pertunjukan Kesenian Irama Minang.

Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra  juga mengajak masyarakat menjaga kebersihan dan lingkungan sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan.

Di tengah seluruh rangkaian itu, tungku-tungku kayu tetap menyala.
Barangkali, itulah gambar kecil tentang sebuah kota yang sedang berusaha maju tanpa kehilangan jejak masa lalunya.Sebab kebudayaan tidak selalu hilang dengan suara keras.

Kadang ia hilang perlahan,ketika resep tidak lagi dimasak, ketika cara lama tidak lagi diajarkan, dan ketika generasi baru hanya mengenalnya dari cerita.

Tanah Hitam memilih untuk tidak menunggu sampai itu terjadi. Hari itu, mereka memasak sambalado tanak seperti orang-orang dahulu.

Bukan untuk menolak zaman, melainkan untuk memastikan bahwa ketika zaman terus berubah, masih ada sesuatu yang tetap mereka kenali sebagai milik sendiri.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

BERITA

H.Zulkifli MKW Suku Sikumbang Parak Karambia Hadiri Halal bil Halal Suku Sikumbang

BERITA

Babinsa Koramil 07/ Maos Latih Baris Berbaris dan Latihan Tata Cara Upacara Bendera Di MA Nurul Islam Sampang

ARTIKEL

HARI KETIGA PENCARIAN, SURVIVOR BERHASIL DIKETEMUKAN OLEH TIM SAR GABUNGAN DI SUNGAI TAJUM BANYUMAS

ARTIKEL

Dirjen Bina Bangda Tekankan Sinkronisasi Pusat dan Daerah dalam Rakortekrenbang 2025

BERITA

Gubernur Mahyeldi Tinjau Pelayanan Panti Sosial Tresna Werdha KSI Batusangkar yang Dihuni 70 Orang Lansia Terlantar

BERITA

Dari Laka Laut, Polda Jateng Ungkap TPPO 447 Orang Sebagai ABK Kapal

BERITA

Operasi Zebra Candi 2023 Serentak Digelar, Sejumlah Pelanggaran Jadi Sasaran  

ARTIKEL

Berhasil Kendalikan Inflasi, Sonny Terima DIF Rp5,4 Miliar Dari Menteri Tito