Home / BERITA / DAERAH / KOTA BUKITTINGGI / NASIONAL / PENDIDIKAN / PERISTIWA / SUMBAR

Saturday, 23 May 2026 - 19:26 WIB

Di Balik Toga Uci, Ada Doa Guru Tua, Air Mata Orang Tua, dan Perjuangan Seorang Ibu Tiga Anak

BUKITTINGGI ,Sinyalnews.com-Di bawah gemerlap lampu Ballroom Bung Hatta Hotel Monopoli Bukittinggi, Jumat (23/5/2026), langkah seorang perempuan muda bernama Suci Ramadya, S.Tr.Kes terasa begitu berbeda. Bukan sekadar berjalan menuju panggung wisuda, tetapi menapaki jejak panjang perjuangan, pengorbanan, dan doa yang tak pernah putus dari keluarga yang mencintainya.

Dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Angkatan V Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim (ITBHAS) Bukittinggi, Suci resmi diwisuda sebagai Magister Manajemen langsung oleh Rektor Prof. Dr. Yulihasri, MM.

Namun bagi perempuan yang akrab dipanggil “Uci” itu, gelar magister bukan hanya tentang titel akademik.

Di balik toga hitam dan selempang kuning yang melekat di pundaknya, tersimpan kisah panjang seorang anak kampung dari Tanjuang Alam, Tanah Datar, yang tumbuh dari keluarga sederhana penuh nilai perjuangan dan pendidikan.

Ia adalah putri pertama pasangan Yuhelmi Sofia dan Reflis, pensiunan guru SD di Tanah Datar yang selama hidupnya mengabdikan diri mendidik anak-anak bangsa dengan penuh ketulusan.

Hari itu, mata kedua orang tuanya tak mampu menyembunyikan rasa haru.

Mereka berdiri di samping putri sulung yang dulu hanya mereka antar ke sekolah dengan doa sederhana, kini berdiri gagah menerima gelar magister di hadapan ratusan pasang mata.

Suci bukan hanya seorang mahasiswi. Ia adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Tanah Datar. Di tengah rutinitas pekerjaan dan tanggung jawab yang tak ringan, ia tetap memilih melanjutkan pendidikan.

Baca Juga :  Pelajar dan Guru Berprestasi Sumbar di Undang Ikut Upacara Peringatan Hari Pahlawan di TMP Kalibata 

Lebih dari itu, Uci juga seorang ibu dari tiga “jagoan cilik”, buah kasih bersama sang suami tercinta, JET Apriandi, ST.

Di sela tugas sebagai ASN, peran sebagai istri, dan tanggung jawab sebagai ibu, ia tetap memeluk mimpi yang sama,pendidikan harus diperjuangkan, bukan ditinggalkan.

Tak sedikit malam yang mungkin dilaluinya dengan rasa lelah, tugas kuliah yang menumpuk, hingga waktu istirahat yang harus dikorbankan. Namun perempuan itu tetap berjalan, setapak demi setapak.

Karena baginya, ilmu bukan sekadar gelar, tetapi warisan paling berharga untuk keluarga dan masa depan anak-anaknya.

Suasana semakin emosional usai prosesi wisuda ketika Uci berdiri diapit kedua orang tua dan suaminya untuk mengabadikan momen penuh makna itu.

Senyum mereka sederhana, namun menyimpan cerita yang besar.

Cerita tentang orang tua yang tak pernah berhenti mendoakan anaknya.

Cerita tentang seorang suami yang tetap menjadi sandaran dalam setiap perjuangan istrinya.

Dan cerita tentang seorang perempuan yang membuktikan bahwa menjadi ibu, ASN, sekaligus mahasiswa pascasarjana bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.

Rasa bangga juga datang dari keluarga besar mereka.

Darwin, mamak tertua saat ini dalam keluarga Jimka karena yang tertua telah tiada ,ia mengaku terharu melihat perjuangan keponakannya yang sejak kecil dikenal gigih dan tak mudah menyerah.

Baca Juga :  Satgas TMMD Ke-119 Kodim 1623/Karangasem Rehab Tempat Ibadah

“Uci itu dari kecil memang anak yang tekun. Kami tahu bagaimana dia membagi waktu antara kerja, kuliah, dan keluarga. Hari ko kami sangat bangga. Ini bukan hanya kebahagiaan untuk orang tuanya, tapi untuk keluarga besar kami,” ucap Darwin dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Hildawati, tante tertua dalam keluarga, juga tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Sosok Hildawati sendiri dikenal sebagai perempuan tangguh di keluarga besar mereka. Bahkan di masa mudanya, ia pernah mendapat kehormatan diundang ke Istana Negara dan bersalaman langsung dengan Wakil Presiden kedua Republik Indonesia, Adam Malik.

Semangat hidup, keteguhan, dan daya juang perempuan itulah yang menurut keluarga juga mengalir dalam diri Uci.

“Yang paling kami salut, Uci ndak pernah mengeluh. Walau sibuk jadi ASN dan ibu dari tiga anak, dia tetap semangat kuliah sampai selesai. Kami tahu betul perjuangannya. Hari ko kami benar-benar ikut bahagia melihat dia memakai toga magister,” tutur Hildawati penuh haru.

Di tengah zaman yang sering membuat banyak orang menyerah pada keadaan, Suci Ramadiya justru hadir membawa pesan sederhana namun kuat:

Bahwa pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat selesai, tetapi siapa yang tetap bertahan hingga akhir perjuangan.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

BADAN NEGARA

Dua Putra Terbaik Kuranji Bertemu Dalam Silaturahmi Yang Hangat

ARTIKEL

70 Siswa PAUD Kunjungi Kodim 0703/Cilacap

BERITA

Dari Sepi ke Denyut Baru: Parkir Empat Arah Jadi Taruhan Kebangkitan Pasar Padang Panjang”

BERITA

Tim Asistensi Korbinmas Baharkam Polri Kunjungi Polres Pekalongan, Galakkan Polisi RW

BADAN NEGARA

PMPP TNI Menggelar Syukuran HUT Ke-18 Tahun 2025

BERITA

Polsek Karangdadap Amankan Pengambilan Sumpah Janji dan Pelantikan Kepala Desa Antar Waktu Desa Kebonrowopucang

BERITA

Jelang Akhir Acara Asean Economic ministers (AEM), Kegiatan Berjalan Aman dan Lancar

BADAN NEGARA

Wujudkan Balita Sehat, Babinsa Dampingi Pelaksanaan Imunisasi