Home / BERITA / DAERAH / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR

Monday, 1 December 2025 - 00:28 WIB

30 Menit Sebelum Bencana, Pengakuan Sopir yang Menyaksikan Penumpangnya Hilang

PadangPanjang,Sinyalnews.com-Di sebuah posko kecil di Koramil 01/Padang Panjang, lampu darurat menggantung redup. Di bawah sinarnya, seorang pria duduk dengan wajah letih tapi tegar,sopir travel Dumai-Pariaman yang menjadi satu dari sedikit saksi hidup tragedi banjir bandang dan longsor Jembatan Kembar, 27 November 2025.

Ia adalah saksi yang melihat bagaimana detik-detik biasa berubah menjadi detik-detik paling mengerikan dalam hidupnya. Dengan suara berat, ia mulai membuka kisah itu. Kisah yang hanya berjarak 30 menit dari hidup dan maut.

“Kami hanya istirahat sebentar… tak ada yang menyangka malam itu akan berakhir seperti ini.”

Rabu, 26 November 2025. Mobil AVP yang ia kemudikan membawa tujuh penumpang, termasuk seorang warga negara Malaysia bernama Asrul Nizam Bin Apridwson. Perjalanan berjalan normal hingga Padang Panjang, di mana mereka terhenti karena longsor di Cubadak Bungkuak.

Setelah malam panjang, Kamis paginya mereka kembali melaju. Namun kabar tentang pohon tumbang dan material longsor di Jembatan Kembar membuatnya memutuskan memutar arah dan menepi di sebuah mushalla kecil. Semua penumpang turun untuk beristirahat.

Saat itu tak ada tanda apa pun bahwa bencana sebesar itu sedang mengintai.

Beberapa menit kemudian, enam penumpang kembali masuk ke mobil. Tapi seorang penumpang mendengar dentuman keras dari arah hulu sungai dan keluar lagi. Dentuman itu menjadi aba-aba terakhir sebelum semuanya berubah.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPC GERINDRA Kota Batam Beserta rombongan Melakukan Peduli sesama Menjemput jenazah M. Fadil ke Bandara Hang Nadim

“Air datang seperti tembok besar… bukan banjir biasa.”

Sang sopir,yang saat itu berada di warung bersama seorang penumpang,mengaku sempat terdiam oleh suara yang tak pernah ia dengar seumur hidupnya. Suara bumi bergemuruh. Suara air yang berlari seperti hewan buas.

Dalam hitungan detik, air bah bercampur lumpur dan batu bergulung menelan mobil AVP yang hanya berjarak beberapa meter darinya.

Empat penumpang,Jaruni, Roni Pasila, Muliadi, dan Asrul Nizam,hilang dalam sekejap.

Sementara sepasang suami istri berhasil diseret keluar dan diselamatkan oleh Sertu Riki Fernandes dari Koramil 01/PP. Ia tak sanggup melihat mobil yang baru saja menjadi tempat mereka bercengkerama kini terpental dan dihanyutkan arus.

Saya ingat suara mereka… saya ingat wajah-wajah itu. Lalu mobil itu hilang.” katanya dengan mata yang berkabut. Beberapa warga dan ia bersama 10 orang lainnya berlari naik ke bukit dalam kondisi gelap, hujan deras, dan tanah yang labil. Mereka berlari tanpa menoleh, karena di belakang mereka, alam sedang memuntahkan amarahnya.

“Saya hidup… tapi empat orang bersama saya tak kembali.”

Di posko itu, sesekali tangannya meremas lutut, menahan gemetar. Ia menyebut nama-nama yang masih hilang satu per satu,termasuk Asrul Nizam, warga Malaysia yang menjadi penumpang terakhir yang ia antar.

Baca Juga :  Babinsa Koramil Mapurujaya Hadiri Penyambutan Sekaligus Pengamanan Kedatangan Uskup Timika Di Wilayah Binaan

Kami berangkat bersama dari Dumai. Saya masih ingat senyum dia waktu turun sebentar di mushalla.Setiap kata yang diucapkannya seperti menggores udara, mengingatkan betapa tipis batas antara selamat dan hilang.

Harapan Terakhir untuk yang Belum Ditemukan

Hingga malam ini, tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan relawan terus menyisir sungai Silaiang yang berubah menjadi aliran lumpur hitam. Nama Asrul Nizam, warga Malaysia berusia 30 tahun itu, terus dipanggil dalam setiap pencarian. Begitu pula tiga penumpang lainnya,termasuk bang Pelda Yudi Gusnaldi anggota Sub Denpom Padang Panjang yang juga akrab ngopi sama saya waktu itu.

Padang Panjang bersatu dalam satu doa,semoga mereka ditemukan,dalam keadaan apa pun, dengan penuh hormat.

Jejak Penyintas yang Tak Akan Pernah Sama

Sopir itu menatap kosong gelas kopi yang tak lagi hangat. Malam, suara bising posko, dan bau lumpur masih menempel di ingatannya.

Kalau saja saya di mobil waktu itu… mungkin saya juga hilang seperti mereka.

Ia adalah saksi hidup tragedi Jembatan Kembar. Dan kisahnya bukan sekadar cerita penyelamatan,tetapi kisah kehilangan, penyesalan, dan rasa syukur yang terus bertabrakan di dadanya.(Paulhendri)

Share :

Baca Juga

BERITA

Penggalian Box Culvet Dekat MTC Makan Korban Jiwa! Siapa Tanggung Jawab?

BADAN NEGARA

Babinsa Cilibang Hadiri Pembukaan Liga Sepak Bola U-40 Antar Kecamatan

BERITA

Polres Bintan Tanam Ribuan Bibit Pohon Mangrove di Pantai Lahoa

ARTIKEL

76 Orang Pejabat dinyatakan Lulus Seleksi Administrasi Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2025

BERITA

PT Muda Teruna Group ,Sembelih 2 Ekor Sapi Berat 910 Kg

ARTIKEL

Lestarikan Lingkungan, Satgas TMMD Ke-124 Kodim 1501/Ternate Laksanakan Penghijauan

ARTIKEL

Silaturrahmi Dengan MTI Masjid Baitun Hikmah, Fadly Amran Paparkan Program “Padang Sigap” Tangani Tawuran

BERITA

Sat Res Narkoba Polresta Cilacap Tangkap 2 Gembong Bandar Obat Terlarang dan Amankan 320ribu Butir Obat Berbahaya