Penulis: Musdafirman Datuk Rajo Di Guci
Kategori: Opini / Karakter & Budaya
Dalam menelusuri alur kehidupan dan dinamika bermasyarakat, kita sering menganggap bahwa kebaikan adalah sesuatu yang mutlak. Semakin baik seseorang, semakin sempurna pula ia sebagai manusia yang beradat dan beradab.
Namun, kebaikan pun membutuhkan ukuran.
Sebab sesuatu yang dilakukan secara berlebihan, meskipun berangkat dari niat baik, dapat kehilangan hakikat kebaikannya ketika tidak lagi ditempatkan pada porsi yang tepat.
Di sinilah pentingnya keseimbangan raso jo pareso—menimbang sesuatu dengan perasaan yang jernih sekaligus pikiran yang matang.
Ada sebuah ungkapan bijak:
“Setiap kebaikan yang berlebihan dapat berubah menjadi kelemahan:
Berani tanpa perhitungan menjadi kecerobohan.
Hati-hati tanpa keberanian menjadi ketakutan.
Terhormat tanpa kelenturan menjadi kesombongan.
Penyayang tanpa ketegasan menjadi kelemahan.”
Pesan ini mengajak kita untuk senantiasa mengukur setiap tindakan, karena tidak semua yang tampak baik akan menghasilkan kebaikan apabila dilakukan tanpa pertimbangan.
1. Keberanian Tanpa Perhitungan: Kecerobohan yang Menyamar sebagai Ketangguhan
Keberanian sering dipandang sebagai simbol kepemimpinan dan keteguhan. Namun, keberanian yang tidak disertai perhitungan risiko, pertimbangan akal sehat, dan pemahaman terhadap keadaan dapat berubah menjadi tindakan yang gegabah.
Dalam falsafah Minangkabau terdapat ungkapan “alun takilek, lah takalam”—yang mengandung pesan tentang kepekaan membaca keadaan dan memahami sesuatu sebelum mengambil langkah.
Keberanian sejati bukan berarti menerjang segala risiko tanpa berpikir. Keberanian adalah kesediaan menghadapi risiko setelah mempertimbangkan akibat dan konsekuensinya.
Karena itu, keberanian perlu ditemani kebijaksanaan.
2. Kehati-hatian Tanpa Keberanian: Takut Melangkah
Kehati-hatian adalah sikap yang baik. Ia membuat seseorang mampu melihat risiko sebelum mengambil keputusan.
Namun, kehati-hatian yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk bertindak. Terlalu lama menghitung risiko dapat menyebabkan peluang berlalu tanpa pernah dicoba.
Dalam kehidupan, tidak semua keputusan dapat menunggu keadaan menjadi sempurna.
Ada saatnya kita harus melangkah setelah melakukan pertimbangan yang cukup. Sebab kehati-hatian bukanlah alasan untuk terus berada di tempat.
Berpikir sebelum bertindak adalah kebijaksanaan; tetapi terus berpikir tanpa pernah bertindak dapat menjadi penghambat kehidupan.
3. Kehormatan Tanpa Kelenturan: Ketika Marwah Berubah Menjadi Keangkuhan
Menjaga marwah, harga diri, dan kehormatan merupakan bagian penting dalam kehidupan orang yang beradat.
Namun, kehormatan yang terlalu kaku dapat berubah menjadi keangkuhan apabila seseorang tidak lagi mau mendengar nasihat, menerima masukan, atau memahami perubahan keadaan.
Memegang prinsip tidak berarti menutup pintu terhadap pendapat orang lain.
Kehormatan sejati justru terlihat ketika seseorang mampu berdiri tegak mempertahankan nilai yang diyakininya, tetapi tetap rendah hati dalam menerima kebenaran dari siapa pun.
Teguh pada prinsip tidak harus keras kepada manusia.
Kelenturan bukan berarti kehilangan pendirian. Kelenturan adalah kemampuan menempatkan prinsip secara bijaksana sesuai keadaan, tanpa kehilangan nilai dasarnya.
4. Kasih Sayang Tanpa Ketegasan: Ketika Kebaikan Berubah Menjadi Pemanjaan
Kasih sayang adalah salah satu bentuk tertinggi dari kemanusiaan. Namun, kasih sayang yang tidak disertai ketegasan dapat menimbulkan persoalan baru.
Dalam keluarga, pendidikan, kepemimpinan, maupun kehidupan bermasyarakat, ada waktunya seseorang harus menegur, mengingatkan, bahkan memberikan batas yang jelas.
Membiarkan kesalahan hanya karena tidak ingin menyakiti perasaan seseorang bukan selalu bentuk kasih sayang.
Kadang-kadang, ketegasan justru merupakan bentuk kasih sayang yang paling diperlukan.
Orang tua yang menyayangi anak bukan hanya memberikan apa yang disukai anak, tetapi juga mengajarkan apa yang benar.
Pemimpin yang menyayangi masyarakat bukan hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga berani menegakkan aturan demi kebaikan bersama.
Kasih sayang membutuhkan batas. Ketegasan membutuhkan hati. Keduanya harus berjalan bersama.
Mendidik Hati dengan Raso jo Pareso
Dari semua itu kita belajar bahwa kebaikan tidak pernah berdiri sendiri.
Setiap nilai membutuhkan pasangan yang menyeimbangkannya:
Keberanian membutuhkan perhitungan.
Kehati-hatian membutuhkan keberanian.
Kehormatan membutuhkan kelenturan.
Kasih sayang membutuhkan ketegasan.
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, raso jo pareso mengajarkan bahwa keputusan tidak cukup hanya menggunakan perasaan, tetapi juga tidak cukup hanya mengandalkan pikiran.
Raso mengajarkan kepekaan terhadap keadaan dan perasaan sesama.
Pareso mengajarkan kita untuk menimbang, menganalisis, dan melihat akibat dari setiap tindakan.
Ketika raso dan pareso berjalan bersama, seseorang tidak mudah bertindak secara emosional, tetapi juga tidak kehilangan rasa kemanusiaan.
Di situlah keseimbangan menjadi penting.
Sebab hidup bukan tentang menjadi orang yang paling berani, paling hati-hati, paling terhormat, atau paling penyayang.
Hidup adalah tentang menempatkan setiap kebaikan pada ukuran yang tepat.
Dalam adat Minangkabau kita mengenal prinsip:
“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”
Nilai adat dan kehidupan tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang memiliki prinsip, tetapi juga bagaimana prinsip itu dijalankan dengan kebijaksanaan.
Maka, mari kita mendidik hati dengan raso, mengasah pikiran dengan pareso, dan menempatkan keduanya dalam keseimbangan.
Sebab pada keseimbangan itulah lahir kebijaksanaan.
Dan pada kebijaksanaan itulah terjaga marwah, martabat, serta kedewasaan manusia dalam menjalani kehidupan bersama.
— Musdafirman Datuk Rajo Di Guci














