Ramadan di Padang Panjang: Vasco Turun Menyapa, Nurafni Setia Mengawal Langkah Kepedulian
Padang Panjang.Sinyalnews.com — Senja perlahan turun di PadangPanjang. Lampu-lampu kecil mulai menyala di deretan tenda kuliner, sementara aroma gorengan dan minuman manis bercampur dengan riuh percakapan warga yang menunggu waktu berbuka.
Di tengah keramaian itu, langkah Vasco Ruseimy terlihat menyusuri lapak-lapak sederhana milik pedagang kecil. Ia berhenti, menyapa, sesekali mencicipi kuliner rakyat yang dijajakan di meja-meja sederhana.
Namun di sisi lain, ada satu sosok yang tak pernah jauh dari langkah rombongan itu. Ia berjalan tenang, menyimak, sesekali berbincang dengan warga yang mendekat. Dialah Nurafni Fitri, Srikandi Partai Gerakan Indonesia Raya Kota Padang Panjang yang setia mendampingi kunjungan Wagub di kota berhawa sejuk itu.
Bagi Nurafni, mendampingi kunjungan ini bukan sekadar protokoler politik. Ia menjadikannya ruang untuk memastikan suara warga sampai ke telinga pemimpin provinsi.
“Ramadan adalah waktu terbaik untuk mendekatkan hati. Pemimpin harus hadir di tengah masyarakat, melihat langsung kehidupan mereka,” ujarnya di sela kegiatan.
Dari pusat kuliner rakyat, rombongan bergerak menuju sebuah panti asuhan. Di sana, anak-anak menyambut dengan senyum malu-malu. Sebagian menatap penuh harap, sebagian lain berlarian kecil di halaman.
Bantuan diserahkan. Suasana yang semula hening berubah hangat. Nurafni tampak menunduk, menyapa anak-anak satu per satu. Ia bertanya nama mereka, menepuk bahu kecil yang tampak rapuh namun penuh semangat.
Perjalanan belum selesai. Rombongan kemudian singgah ke sebuah masjid di kawasan kota. Di tempat ibadah itu, suasana Ramadan terasa kental. Jamaah berdatangan, sementara percakapan ringan tentang kehidupan sehari-hari mengalir begitu saja.
Namun titik paling sunyi dari kunjungan itu justru terjadi ketika rombongan memasuki rumah seorang warga kurang mampu.
Rumah itu sederhana. Dindingnya tak mewah, ruangnya sempit. Tetapi dari wajah pemilik rumah terlihat rasa haru yang sulit disembunyikan ketika bantuan diserahkan langsung oleh Wagub.
Di momen seperti itulah, kehadiran pemimpin terasa berbeda. Bukan sekadar simbol kekuasaan, tetapi sebagai manusia yang datang membawa perhatian.
Nurafni berdiri tak jauh dari pintu rumah. Ia menyimak percakapan singkat antara warga dan Wagub. Sesekali ia membantu menjelaskan kondisi keluarga tersebut.
Ramadan, bagi mereka, bukan hanya bulan ibadah. Ia menjadi ruang pertemuan antara empati dan kekuasaan.
Kunjungan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi bagi pedagang kecil, anak panti, dan warga yang hidup dalam keterbatasan, perhatian seperti itu sering kali menjadi sesuatu yang jarang datang.
Di kota kecil yang tenang ini, langkah-langkah sederhana itu seperti mengingatkan satu hal: bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari podium besar, tetapi dari keberanian untuk berjalan di lorong-lorong kehidupan rakyat.
Dan di sepanjang perjalanan itu, sosok Nurafni Fitri tetap berada di sana,mengawal, menyambungkan, dan memastikan kepedulian itu benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.(paulhendri)














