Home / ARTIKEL / BERITA / DAERAH / EKONOMI / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / POLITIK / SUMBAR

Wednesday, 18 March 2026 - 10:10 WIB

“Rumah Reot Tanah Hitam: Empati Wagub, Klarifikasi Pemko, dan Pelajaran dari Sebuah Kunjungan” PADANG PANJANG – Sebuah rumah tua yang nyaris roboh di Kelurahan Tanah Hitam, Kecamatan Padang Panjang Barat, mendadak menjadi perhatian saat Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, berkunjung ke lokasi tersebut, Ahad (15/3/2026). Rumah itu dihuni seorang perempuan bernama Mainar. Di hadapan rombongan pejabat provinsi, ia menyampaikan keluhan yang membuat suasana seketika berubah emosional. Ia mengaku selama ini tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota Padang Panjang. Kondisi rumah yang lapuk dan memprihatinkan membuat empati pun muncul. Wakil Gubernur kemudian memberikan bantuan 50 sak semen untuk membantu perbaikan rumah tersebut. Tak lama berselang, bantuan lain juga datang. Baznas Kota Padang Panjang menyalurkan bantuan Rp25 juta, yang digerakkan atas inisiatif Ketua TP PKK Kota Padang Panjang, Maria Feronika Hendri Arnis, setelah melihat langsung kondisi rumah tersebut. Ia mengaku tersentuh melihat kondisi tempat tinggal warga tersebut dan berupaya mencarikan solusi agar rumah itu dapat diperbaiki. Klarifikasi Pemerintah Kota Namun setelah kunjungan tersebut, data dari pemerintah kota menunjukkan fakta yang lebih lengkap. Kepala Dinas Sosial Kota Padang Panjang, Winarno, didampingi Lurah Tanah Hitam Wetriko, menjelaskan bahwa tidak benar jika keluarga tersebut sama sekali tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah. “Yang bersangkutan terdaftar dalam data keluarga miskin dan menerima bantuan sosial secara berkala. Di rumahnya juga terpajang stiker program keluarga miskin,” jelas Winarno. Menurut data Dinas Sosial, keluarga tersebut menerima beberapa bantuan, antara lain BLT Kesra Rp900 ribu pada akhir 2025 serta Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Rp600 ribu per bulan yang dicairkan setiap tiga bulan. Selain itu, salah seorang anak dari keluarga tersebut juga pernah menerima bantuan pendidikan dari Baznas Kota Padang Panjang sebesar Rp1,5 juta pada 2025. Bedah Rumah Terkendala Status Tanah Rumah tersebut sebenarnya juga pernah diusulkan dalam program bedah rumah pada 2024. Namun program itu tidak bisa direalisasikan karena status tanah yang ditempati bukan milik pribadi, melainkan tanah sewa, sementara program bedah rumah mensyaratkan kepemilikan lahan yang jelas. “Usulan bedah rumah sudah pernah diajukan, tetapi belum dapat dilaksanakan karena status tanahnya bukan milik pribadi,” terang Winarno. Catatan dari Tokoh Masyarakat Tokoh masyarakat Padang Panjang, H. Rinaldi Dt. Basa, menilai peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Menurutnya, kunjungan pejabat provinsi ke daerah memang penting untuk melihat langsung kondisi masyarakat. Namun koordinasi dengan pemerintah kota hingga tingkat RT dan lurah juga tidak kalah penting. “Kadang masyarakat menyampaikan keluhan secara emosional. Itu wajar. Tapi pemerintah paling bawah juga memiliki data yang bisa menjelaskan kondisi sebenarnya agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ujarnya. Pandangan Pengamat Politik Pengamat politik Sumatera Barat, Dr. Fadli Arif, menilai kunjungan pejabat tinggi ke lapangan sering kali menghadirkan dua sisi sekaligus: empati politik dan realitas administratif. Menurutnya, empati yang muncul saat melihat langsung kondisi warga merupakan hal positif. Namun pengambilan kesimpulan juga perlu dilengkapi dengan data pemerintah daerah. “Dalam politik, kunjungan lapangan memang penting karena memperlihatkan keberpihakan kepada rakyat. Tetapi dalam tata kelola pemerintahan, keputusan tidak bisa hanya didasarkan pada satu cerita di lapangan. Harus ada klarifikasi data dari pemerintah daerah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kejadian seperti ini juga menjadi pengingat bahwa koordinasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota harus berjalan lebih kuat. “Kalau kunjungan pejabat tidak didampingi informasi dari pemerintah setempat, yang muncul bisa saja hanya potongan cerita. Padahal kebijakan publik membutuhkan gambaran yang utuh,” katanya. Pelajaran dari Tanah Hitam Di Tanah Hitam, sebuah rumah reot akhirnya menghadirkan dua cerita sekaligus. Cerita tentang empati seorang pejabat yang tersentuh melihat langsung kondisi warganya. Dan cerita tentang pentingnya data serta koordinasi dalam kebijakan sosial. Karena dalam urusan kemiskinan, sering kali yang terlihat di depan mata hanyalah satu bagian kecil dari cerita panjang yang sebenarnya

PadangPanjang.Sinyalnews.com- Sebuah rumah tua yang nyaris roboh di Kelurahan Tanah Hitam, Kecamatan Padang Panjang Barat, mendadak menjadi perhatian saat Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, berkunjung ke lokasi tersebut, Ahad (15/3/2026).

Rumah itu dihuni seorang perempuan bernama Mainar dan suamainya . Di hadapan rombongan pejabat provinsi, ia menyampaikan keluhan yang membuat suasana seketika berubah emosional.

Ia mengaku selama ini tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota Padang Panjang.
Kondisi rumah yang lapuk dan memprihatinkan membuat empati pun muncul. Wakil Gubernur kemudian memberikan bantuan 50 sak semen untuk membantu perbaikan rumah tersebut.
Tak lama berselang, bantuan lain juga datang. Baznas Kota Padang Panjang menyalurkan bantuan Rp25 juta, yang digerakkan atas inisiatif Ketua TP PKK Kota Padang Panjang, Maria Feronika Hendri Arnis, setelah melihat langsung kondisi rumah tersebut.

Ia mengaku tersentuh melihat kondisi tempat tinggal warga tersebut dan berupaya mencarikan solusi agar rumah itu dapat diperbaiki.
Klarifikasi Pemerintah Kota
Namun setelah kunjungan tersebut, data dari pemerintah kota menunjukkan fakta yang lebih lengkap.

Kepala Dinas Sosial Kota Padang Panjang, Winarno, didampingi Lurah Tanah Hitam Wetriko, menjelaskan bahwa tidak benar jika keluarga tersebut sama sekali tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah.a”Yng bersangkutan terdaftar dalam data keluarga miskin dan menerima bantuan sosial secara berkala. Di rumahnya juga terpajang stiker program keluarga miskin,” jelas Winarno.

Baca Juga :  Satgas Kizi TNI Konga XXXVII-J Minusca Car kunjungi  Camp kontingen Minusca pada momen Idul Fitri 1445 H

Menurut data Dinas Sosial, keluarga tersebut menerima beberapa bantuan, antara lain BLT Kesra Rp900 ribu pada akhir 2025 serta Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Rp600 ribu per bulan yang dicairkan setiap tiga bulan.
Selain itu, salah seorang anak dari keluarga tersebut juga pernah menerima bantuan pendidikan dari Baznas Kota Padang Panjang sebesar Rp1,5 juta pada 2025. Bedah Rumah Terkendala Status Tanah
Rumah tersebut sebenarnya juga pernah diusulkan dalam program bedah rumah pada 2024.
Namun program itu tidak bisa direalisasikan karena status tanah yang ditempati bukan milik pribadi, melainkan tanah sewa, sementara program bedah rumah mensyaratkan kepemilikan lahan yang jelas.
“Usulan bedah rumah sudah pernah diajukan, tetapi belum dapat dilaksanakan karena status tanahnya bukan milik pribadi,” terang Winarno.

Tokoh masyarakat Padang Panjang, H. Rinaldi Dt. Basa, menilai peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
Menurutnya, kunjungan pejabat provinsi ke daerah memang penting untuk melihat langsung kondisi masyarakat. Namun koordinasi dengan pemerintah kota hingga tingkat RT dan lurah juga tidak kalah penting.
“Kadang masyarakat menyampaikan keluhan secara emosional. Itu wajar. Tapi pemerintah paling bawah juga memiliki data yang bisa menjelaskan kondisi sebenarnya agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ujarnya.
Pandangan Pengamat Politik

Baca Juga :  Pejabat Eselon II Ramai-Ramai Mundur, Sembilan OPD Kini Dijabat Pl Ada Apa dengan Pemerintahan Padang Panjang?

Pengamat politik Sumatera Barat, Dr. Fadli Arif, menilai kunjungan pejabat tinggi ke lapangan sering kali menghadirkan dua sisi sekaligus: empati politik dan realitas administratif.
Menurutnya, empati yang muncul saat melihat langsung kondisi warga merupakan hal positif. Namun pengambilan kesimpulan juga perlu dilengkapi dengan data pemerintah daerah.
“Dalam politik, kunjungan lapangan memang penting karena memperlihatkan keberpihakan kepada rakyat. Tetapi dalam tata kelola pemerintahan, keputusan tidak bisa hanya didasarkan pada satu cerita di lapangan. Harus ada klarifikasi data dari pemerintah daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kejadian seperti ini juga menjadi pengingat bahwa koordinasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota harus berjalan lebih kuat.

“Kalau kunjungan pejabat tidak didampingi informasi dari pemerintah setempat, yang muncul bisa saja hanya potongan cerita. Padahal kebijakan publik membutuhkan gambaran yang utuh,” katanya.
Pelajaran dari Tanah Hitam
Di Tanah Hitam, sebuah rumah reot akhirnya menghadirkan dua cerita sekaligus.
Cerita tentang empati seorang pejabat yang tersentuh melihat langsung kondisi warganya.
Dan cerita tentang pentingnya data serta koordinasi dalam kebijakan sosial.
Karena dalam urusan kemiskinan, sering kali yang terlihat di depan mata hanyalah satu bagian kecil dari cerita panjang yang sebenarnya.(Paulhendri)

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Seroja Printing Sumbar (SPS) Siap Melayani Kebutuhan Kantor dan Usaha Anda…!! Kami hadir di Kota Padang bersama PT. Berkah Niaga Printing

BADAN NEGARA

PLN Batam Menindaklanjuti Penataan dan Perbaikan Kabel Semrawut

BADAN NEGARA

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Serahkan Bantuan Bagi Masyarakat Terdampak Longsor Tanjung Sani

ARTIKEL

Ditunjuk Tuan Rumah KSM Tingkat Provinsi Sumatera Barat Tahun 2023, Kepala Kantor Ungkap Tri Sukses

ARTIKEL

Terkait Kasus Dugaan Korupsi PT. Waskita Beton Precast, Kejagung Periksa Dua saksi

BERITA

Wujud Sinergitas, TNI-Polri Adakan Patroli Gabungan Menjelang Pemilu

ARTIKEL

Upayakan Percepatan Penanganan Bencana di Sumbar, Gubernur Mahyeldi Sambangi BNPB

BADAN NEGARA

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Bendahara KPU Padang Panjang Berpulang