PadangPanjang.Sinyalnews.com-Malam di Pasar Padang Panjang tidak hanya dipenuhi hiruk-pikuk pedagang dan pembeli yang mulai memadati pasar menjelang Ramadan dan Lebaran. Di tengah keramaian itu, Wali Kota Padang Panjang turun langsung menyusuri lorong-lorong pasar, memastikan satu hal penting: pasar rakyat harus tetap hidup, tetapi juga tertib, bersih, dan adil bagi semua pencari rezeki.
Didampingi petugas, ia berjalan dari satu kios ke kios lain. Sesekali berhenti, berdialog dengan pedagang, lalu menunjuk bagian lorong yang mulai menyempit karena pajangan barang yang terlalu menjorok keluar.
Pesannya jelas: jangan sampai keinginan mencari rezeki justru merampas ruang orang lain. Kepada para pemilik kios, wali kota menegaskan aturan sederhana namun penting. Pajangan barang yang keluar dari kios hanya boleh sejauh 80 sentimeter, agar lorong pasar tetap lapang dan pengunjung bisa berjalan dengan nyaman.
Selain itu, jarak antar gang kios juga dibatasi sekitar 60 sentimeter, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan antar pedagang dan jalur pejalan kaki tetap terbuka.
Penataan ini menjadi semakin penting karena menjelang Lebaran, pasar selalu dipadati pedagang musiman yang datang untuk mengais rezeki dari ramainya pembeli.
Namun kehadiran mereka tidak dibiarkan tanpa aturan. Pemerintah Kota Padang Panjang telah menyiapkan kios kosong di Blok A dan B lantai 3 serta lantai 2 sebagai tempat berjualan bagi para PKL musiman. Selain itu, beberapa plataran kosong juga disediakan agar mereka tetap memiliki ruang usaha.
Para pedagang ini diperbolehkan berjualan siang hingga malam, dan hanya dikenakan retribusi resmi.
Sementara bagi PKL yang menempati pelataran kios pasar induk, ukuran lapak juga telah ditentukan agar tidak melebar sembarangan.
“Lapaknya cukup dua ubin lebar dan tiga ubin panjang. Kita bagi ruang ini supaya semua bisa berdagang,” ujar wali kota.
Penataan juga menyasar lapak kuliner dan pedagang kue-kue Lebaran yang biasanya ramai di bagian bawah pasar. Wali kota meminta seluruh pedagang menata lapak dengan tenda yang seragam dan rapi, serta tidak menghalangi akses parkir kendaraan di area tengah maupun bawah pasar.
Namun perhatian wali kota tidak hanya berhenti pada penataan lapak pedagang.
Kepada pengelola pasar, ia juga memberi peringatan tegas agar kebersihan dan sarana prasarana pasar benar-benar dijaga.
Ia menyoroti kondisi fasilitas pasar yang tidak boleh dibiarkan terbengkalai,mulai dari kebersihan toilet, dinding pasar yang kotor, kaca yang mulai buram, hingga sarang lebah yang tak boleh dibiarkan menempel di sudut bangunan pasar.
“Pasar harus bersih. WC harus terawat. Jangan sampai dinding kotor, kaca buram, apalagi pasar dipenuhi sarang lebah,” tegasnya.
Hendri Arnis bahkan mengingatkan bahwa pemerintah kota akan kembali melakukan inspeksi mendadak dalam dua hari ke depan untuk memastikan semua arahan benar-benar dijalankan.
Ia berharap pasar tidak hanya ramai oleh aktivitas ekonomi, tetapi juga memberi rasa nyaman bagi setiap pengunjung yang datang.
“Usahakan pengunjung yang masuk ke pasar merasa nyaman. Dari pelayanan, kebersihan, sampai keamanan harus dijaga,” pesannya.
Menurutnya, pasar adalah wajah pelayanan kota. Jika pelayanan buruk dan pengelolaan lalai, maka yang terdengar bukan lagi riuh transaksi, tetapi keluhan pengunjung yang kecewa.
“Jangan sampai pengunjung menjerit karena pelayanan yang kurang baik atau karena kelalaian kita,” tegasnya.
Bagi Pemerintah Kota Padang Panjang, pasar bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang kehidupan,tempat pedagang lama bertahan, pedagang musiman berharap berkah Ramadan, dan masyarakat memenuhi kebutuhan keluarga menjelang hari raya.
Karena itu, di bawah lampu pasar yang tak pernah padam, wali kota ingin memastikan satu pesan sampai kepada semua pihak
Pasar boleh ramai oleh rezeki, tetapi ketertiban, kebersihan, dan pelayanan yang baik harus tetap menjadi wajah utama pasar rakyat.(paulhendri














