Oleh: Paulhendri (wartawan)
Lubuk Mata Kucing sejak lama menjadi kebanggaan Padang Panjang. Dari generasi ke generasi, mata air ini bukan hanya tempat rekreasi keluarga, tapi juga ikon wisata yang memperkuat identitas kota kecil berhawa sejuk ini. Banyak orang yang tumbuh besar dengan kenangan mandi di air jernihnya, menikmati kesejukan alamnya, dan menjadikannya cerita nostalgia hingga kini.
Sejarah mencatat, pemandian Lubuk Mata Kucing sudah ada sejak awal tahun 1930-an. Pada masa kolonial Belanda, lokasi ini menjadi salah satu tujuan rekreasi populer karena sumber airnya yang jernih, dingin, dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan. Dari dulu hingga kini, nama “Mata Kucing” melekat kuat dalam ingatan masyarakat Padang Panjang maupun perantau yang selalu menyempatkan diri berkunjung.
Namun, bencana banjir bandang pada 11 Mei 2024 lalu mengubah segalanya. Infrastruktur rusak, aliran air terganggu, dan pesona alam yang dulu terjaga kini tampak terbengkalai. Ironisnya, hingga saat ini belum ada upaya nyata dari pemerintah daerah untuk memperbaikinya. Padahal, tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol sejarah dan kebanggaan warga.
Lebih menyedihkan lagi, alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik tahun ini hanya Rp950 juta, itu pun diprioritaskan untuk kesehatan—alat kesehatan dan RSUD. Dana tanggap darurat yang turun dari pusat pun hanya Rp650 juta. Angka itu jelas tidak sebanding dengan kebutuhan pemulihan pasca-banjir bandang yang meluluhlantakkan infrastruktur kota.
Sejak dilantik serentak oleh Presiden RI 20 Februari 2025 lalu , Walikota Padang Panjang Hendri Arnis belum memperlihatkan tanda-tanda gebrakan besar untuk menyelamatkan ikon ini. Publik tentu menunggu, kapan ada langkah konkret melobi pusat, membawa proposal ke kementerian, dan memperjuangkan dana khusus pemulihan destinasi wisata.
Tokoh masyarakat Padang Panjang, H. M. Yusuf Dt. Bagindo, menyampaikan kekecewaannya:
“Lubuk Mata Kucing itu bukan sekadar kolam renang, tapi bagian dari sejarah dan jati diri kota ini. Kalau pemerintah daerah lamban, jangan salahkan masyarakat nanti kalau tempat bersejarah ini benar-benar hilang. Generasi muda hanya akan mengenal nama, tanpa bisa merasakan kesejukan airnya,” tegasnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat lainnya, Zainal Abidin, menekankan nilai historis Lubuk Mata Kucing bagi identitas kota:
“Kalau Bukittinggi punya Jam Gadang sebagai ikon sejarahnya, maka Padang Panjang punya Lubuk Mata Kucing sebagai ikon wisata alamnya. Kota ini memang dikenal dengan pendidikan Islam, pusat perdagangan Sumatera Tengah, tapi jangan lupa juga sebagai kota wisata dengan pemandian alami dari sumber Gunung Merapi. Tak ada orang yang tak kenal Lubuk Mata Kucing. Ini simbol yang harus dijaga,” ujarnya.
Pertanyaan besar kini menggantung: Apakah pemerintah hanya akan berdiam diri, atau berani melakukan terobosan agar Lubuk Mata Kucing kembali hidup? Bila tidak ada langkah serius, Lubuk Mata Kucing hanya akan tinggal dalam cerita dan foto kenangan lama, tanpa bisa lagi dinikmati anak cucu kita kelak. Padang Panjang akan kehilangan salah satu ikon terpentingnya, dan sejarah akan mencatat kelalaian pemerintah yang gagal merawat warisan kota. Ko 9














