Home / BERITA / BUDAYA / DAERAH / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PENDIDIKAN / PERISTIWA / SUMBAR

Sunday, 30 August 2026 - 21:45 WIB

Ketika Rumah Menjadi Benteng Terakhir

Kajian Muslimah di Padang Panjang dan Ikhtiar Menjaga Keluarga di Tengah Tantangan Zaman

PadangPanjang.Sinyalnews.com— Seorang anak mungkin mengenal dunia pertama kali dari rumahnya.

Dari sana ia belajar berbicara. Belajar membedakan yang baik dan buruk. Mengenal kasih sayang, kesabaran, juga keteladanan.

Di rumah pula, seorang anak seharusnya menemukan tempat paling aman untuk pulang.
Namun, zaman menghadirkan tantangan yang tidak sederhana.

Kekerasan terhadap perempuan dan dalam lingkungan keluarga, persoalan pergaulan anak dan remaja, perkawinan yang tidak direncanakan, hingga ancaman narkotika yang dapat merusak masa depan generasi muda, menjadi persoalan yang terus mengusik perhatian masyarakat.

Di tengah kenyataan itu, keluarga kembali ditempatkan pada posisi yang sangat penting.

Sebab, sebelum seorang anak mengenal sekolah, lingkungan, dan dunia yang lebih luas, ada rumah yang lebih dahulu membentuknya.

Ahad, 30 Agustus 2026, ratusan muslimah berkumpul di Masjid Agung Manarul ‘Ilmi Islamic Centre, Kota Padang Panjang.

Mereka mengikuti Kajian Muslimah Spesial yang digelar Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Padang Panjang bersama Ustazah Aisyah Rupnidah.

Tema yang diangkat terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan mendasar dalam kehidupan masyarakat: “Membangun Keluarga Sakinah Melalui Ilmu dan Ibadah.”

Kajian itu sekaligus menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis, Ketua TP-PKK Kota Padang Panjang Ny. Maria Feronika Hendri, Ketua Gabungan Organisasi Wanita Sri Wahyuni, Anggota DPRD Puji Hastuti, kader PKK, organisasi muslimah, unsur pemerintah daerah, masyarakat, hingga siswi dari berbagai sekolah.

Namun, pertemuan itu bukan sekadar tentang sebuah agenda keagamaan.
Ada ikhtiar yang lebih besar,memperkuat keluarga.

Rumah, Sekolah Pertama

Dalam kajiannya, Ustazah Aisyah Rupnidah mengulas pentingnya ilmu dan ibadah sebagai fondasi kehidupan keluarga.

Keluarga sakinah, pada akhirnya, bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi persoalan.

Setiap rumah memiliki ujiannya sendiri.
Perbedaan pendapat antara suami dan istri. Kesibukan yang menyita waktu. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan sosial yang terus berubah.

Karena itu, kasih sayang saja tidak selalu cukup.
Keluarga membutuhkan ilmu untuk memahami.
Membutuhkan kesabaran untuk menghadapi persoalan.
Dan membutuhkan keteladanan untuk diwariskan kepada anak-anak.

Ibadah, dalam konteks itu, menjadi ruang untuk kembali mengingat nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup.
Sebab anak-anak tidak hanya tumbuh dari apa yang mereka dengar.

Mereka tumbuh dari apa yang mereka lihat.
Mereka melihat bagaimana ayah memperlakukan ibu.
Mereka memperhatikan bagaimana orang tua menyelesaikan perbedaan.
Mereka belajar dari cara orang dewasa berbicara ketika sedang marah.

Baca Juga :  Babinsa Karangjati Bantu Warga Dalam Pembangunan Saluran Air/ Drainase

Tanpa banyak disadari, rumah adalah sekolah pertama.
Dan orang tua adalah guru pertama.
Pelajaran yang diberikan di sana sering kali tinggal lebih lama daripada yang tertulis di papan tulis.
Tantangan Tidak Bisa Diserahkan kepada Satu Pihak

Wali Kota Hendri Arnis dalam sambutannya menekankan pentingnya keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama.

Menurut dia, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak, dan memiliki landasan keagamaan yang kuat.

“Melalui kajian seperti ini, kita berharap para muslimah semakin mendapatkan bekal ilmu dan pemahaman dalam menjalankan perannya di tengah keluarga. Keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat pula,” ujar Hendri.

Pernyataan itu mengingatkan bahwa persoalan generasi muda tidak dapat dibebankan kepada satu pihak.
Sekolah memiliki peran.
Pemerintah memiliki tanggung jawab.
Tokoh agama dan organisasi masyarakat ikut mengambil bagian.

Aparat penegak hukum bekerja ketika pelanggaran telah terjadi.
Namun, pencegahan sering kali dimulai jauh sebelum itu.

Di rumah.
Ketika seorang anak mulai kehilangan arah, keluarga diharapkan mampu menjadi tempat pertama yang mendengarkan.

Ketika seorang remaja menghadapi persoalan, rumah semestinya menjadi tempat untuk berbicara, bukan ruang yang membuatnya semakin takut.

Dan ketika dunia di luar menawarkan begitu banyak pengaruh, keluarga perlu memiliki kekuatan untuk menjadi penuntun.

Ancaman narkotika, misalnya, bukan sekadar persoalan penegakan hukum.
Di balik setiap anak muda yang terjerat, ada masa depan yang terancam.

Ada keluarga yang ikut menanggung akibatnya.
Ada harapan yang dapat berubah menjadi penyesalan.

Begitu pula persoalan kekerasan terhadap perempuan dan berbagai persoalan yang menyentuh kehidupan anak dan remaja.

Semua itu mengingatkan bahwa membangun generasi tidak cukup hanya dengan menyediakan pendidikan.

Mereka juga membutuhkan rumah yang sehat, keluarga yang hadir, dan lingkungan yang memberi teladan.
Kehadiran yang Tidak Bisa Digantikan

Ketua TP-PKK Kota Padang Panjang Ny. Maria Feronika Hendri mengatakan, pembinaan keluarga membutuhkan dukungan bersama.

Menurut dia, penguatan keluarga tidak dapat hanya dibebankan kepada individu.

Pemerintah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan masyarakat memiliki ruang untuk saling mendukung.

Namun, ada satu hal yang tetap tidak bisa digantikan oleh siapa pun.
Kehadiran keluarga.

Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, kehadiran itu menjadi semakin berharga.

Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar kebutuhan yang terpenuhi.
Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar.

Seseorang yang mampu memahami perubahan yang mereka alami.
Dan seseorang yang tetap membuka pintu ketika mereka melakukan kesalahan.

Baca Juga :  Babinsa Koramil 1710-07/Mapurujaya Membantu Rehab Bangunan Sekolah TK Al-Marifat

“Dengan mengusung semangat ilmu dan ibadah, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu memberikan dampak nyata dalam kehidupan keluarga. Sebab, keluarga sakinah bukan hanya dibangun dengan kasih sayang, tetapi juga dengan ilmu, keteladanan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah SWT,” kata Ny. Maria.

Pesan itu menjadi penting karena keluarga tidak dibangun dalam satu hari.
Ia dirawat melalui kebiasaan-kebiasaan kecil. Melalui percakapan yang jujur.
Melalui kesediaan untuk saling mendengar.
Melalui kemampuan meminta maaf.
Dan melalui keteladanan yang dilakukan berulang kali.

Pekerjaan Rumah Bersama

Kajian Muslimah Spesial di Padang Panjang itu, pada akhirnya, membawa sebuah pesan yang melampaui ruang masjid.

Membangun keluarga yang kuat bukan sekadar urusan domestik.
Ia berkaitan dengan masa depan masyarakat.
Dari keluarga yang sehat, diharapkan lahir generasi yang memiliki pegangan.
Dari keluarga yang memberikan kasih sayang dan keteladanan, anak-anak belajar menghargai dirinya dan orang lain.

Dan dari rumah yang menjunjung nilai agama serta kemanusiaan, diharapkan tumbuh generasi yang tidak mudah kehilangan arah.

Tentu, keluarga bukan satu-satunya jawaban atas seluruh persoalan sosial.
Tantangan yang dihadapi anak-anak dan remaja hari ini jauh lebih kompleks.
Tetapi keluarga tetap menjadi salah satu fondasi terpenting.
Karena itu, menjaga keluarga berarti juga menjaga masa depan.

Kajian tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti di tempat ia didengar.

Ia harus dibawa pulang.
Ke dalam rumah.
Ke dalam cara suami dan istri saling memperlakukan.
Ke dalam cara orang tua berbicara kepada anak.
Ke dalam kesediaan untuk mendengar sebelum menghakimi.

Dan ke dalam kesadaran bahwa membesarkan generasi bukan hanya soal memastikan mereka tumbuh dewasa.
Tetapi juga memastikan mereka tumbuh dengan arah.

Pada akhirnya, keluarga sakinah bukanlah gambaran tentang kehidupan tanpa masalah.

Ia adalah ikhtiar untuk tidak membiarkan persoalan menghancurkan rumah.
Ia adalah kesediaan untuk terus belajar.
Untuk saling menguatkan.
Untuk memperbaiki yang keliru.

Dan untuk menjadikan rumah sebagai tempat di mana setiap anggota keluarga merasa dihargai dan dilindungi.

Di tengah berbagai tantangan yang menghadang generasi hari ini, mungkin pertanyaan yang perlu terus kita ajukan bukan hanya tentang apa yang sedang terjadi di luar sana.

Tetapi juga
Sudahkah kita cukup hadir bagi mereka yang setiap hari menunggu kita di rumah?

Sebab, sebelum anak-anak menghadapi dunia, mereka terlebih dahulu membutuhkan sebuah rumah yang mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan(paulhendri)

Share :

Baca Juga

BADAN NEGARA

Peringati Hari Kemerdekaan RI Ke 78, Polresta Cilacap Tanam 1000 Pohon Mangrove “Polri Lestarikan Negeri, Penghijauan Sejak Dini”

BUDAYA

Pimpin Apel Pagi, Ini Pesan Kadisperindag Sumbar

ARTIKEL

Wujudkan Ketahanan Pangan Di Wilayah, Babinsa Koramil Mapurujaya Rutin Bantu Petani Dalam Menggarap Lahan Pertanian

BERITA

Kemarau Panjang, Danramil Kawunganten Inisiasi Pelaksanaan Shalat Istisqa

ARTIKEL

Seleksi Tahap 1 Petugas Haji 1446H/2025M Resmi Digelar

BADAN NEGARA

Hoyak Tabuik Piaman Meriahkan Kampanye Akbar Paslon 02 Menuju Kemenangan Pilkada Padang Panjang

BERITA

Nagari Singgalang Buncah Ditemukan Mayat dikubur dibelakang Rumah

BERITA

Babinsa Melaksanakan Pendampingan Posyandu Remaja