Home / BERITA / DAERAH / HUKUM / KOTA PADANG PANJANG / NASIONAL / PERISTIWA / SUMBAR

Friday, 29 May 2026 - 18:53 WIB

Dari Dapur Rutan, Aroma Rendang Itu Mengetuk Pintu-Pintu Kemiskinan

Padang Panjang.Sinyalnews.com-— Asap tipis mengepul dari kuali raksasa di sudut Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Padang Panjang, Jumat pagi itu. Di dalamnya, potongan daging kurban perlahan berubah menjadi rendang—pekat, hitam kecokelatan, kaya rempah, dan sarat makna.

Bukan sekadar masakan. Rendang itu adalah tangan yang sedang belajar kembali menyentuh kemanusiaan.

Di balik dinding tinggi dan jeruji besi yang selama ini identik dengan hukuman, empat orang warga binaan tampak sibuk mengaduk gulai yang terus menyusut menjadi rendang. Wajah mereka serius. Sesekali berkeringat. Sesekali saling melempar senyum kecil. Hari itu, mereka tidak sedang menjalani hukuman. Mereka sedang belajar menjadi manusia yang kembali diterima.

Program “Jumat Berkah” yang digagas Rutan Padang Panjang kali ini terasa berbeda. Tidak dilakukan di dalam lingkungan rutan. Untuk pertama kalinya, warga binaan yang telah melewati sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) diizinkan keluar dengan pengawalan ketat demi membagikan langsung 45 paket rendang kepada masyarakat kecil di sudut-sudut kota.

Mereka menyusuri gang sempit, jalan kecil berbatu, hingga rumah-rumah tua yang nyaris roboh. Tidak ada sirene. Tidak ada kemewahan. Yang ada hanya plastik berisi rendang hangat dan tatapan haru dari orang-orang yang menerimanya.

Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu paruh baya memeluk erat paket rendang yang baru diterimanya. Matanya berkaca-kaca. Suaranya bergetar saat bercerita bahwa sebelumnya ia mendapat daging kurban dari masjid, namun belum mampu memasaknya karena tak punya uang membeli bumbu.

Baca Juga :  Madrasah Kota Padang Tampil di Grand Final Madrasah Fest Tahun 2023

“Alhamdulillah… hari ini kami dapat rendang. Semoga bapak dan ibu semua sehat dan rezekinya lancar,” ucapnya lirih.

Kalimat sederhana itu membuat suasana mendadak sunyi. Beberapa warga binaan yang berdiri di dekatnya tertunduk. Ada yang diam-diam menyeka mata.

Sebab untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka merasakan sesuatu yang jarang mereka dapatkan: ucapan terima kasih yang tulus dari masyarakat.

Kepala Rutan Padang Panjang, Novri Abbas, mengatakan kegiatan tersebut bukan hanya tentang berbagi makanan, tetapi tentang mengembalikan rasa kemanusiaan warga binaan yang selama ini sering dipandang sebelah mata.

“Rendang ini diolah oleh warga binaan, dimasak oleh warga binaan, dan dibagikan langsung oleh warga binaan. Kami ingin mereka belajar bahwa hidup tidak selesai ketika seseorang pernah bersalah,” ujarnya.

Bagi Novri, pembinaan tidak cukup hanya dilakukan di balik tembok penjara. Ada luka sosial yang juga harus disembuhkan: stigma masyarakat terhadap mantan narapidana.

Pandangan serupa juga disampaikan tokoh ulama Kota Padang Panjang, Buya Hamidi, yang rumahnya berada tidak jauh dari lingkungan rutan. Menurutnya, apa yang dilakukan warga binaan itu menjadi pengingat bahwa pintu taubat dan penerimaan sosial tidak boleh pernah ditutup.

“Kadang masyarakat terlalu cepat memberi cap buruk kepada orang yang pernah salah. Padahal dalam agama, sebaik-baik manusia adalah yang mau memperbaiki diri. Hari ini kita melihat sendiri, dari tangan warga binaan lahir kepedulian untuk masyarakat kecil. Ini bukan hanya berbagi rendang, tapi berbagi harapan,” ujar Buya Hamidi dengan suara tenang.

Baca Juga :  Komnas HAM RI Sebut Terima Hampir 5000 Aduan Pertahun

Ia menilai kegiatan tersebut menjadi pelajaran penting bahwa proses pembinaan di rutan bukan sekadar menjalani hukuman, melainkan membentuk kembali jiwa manusia agar mampu kembali hidup berdampingan dengan masyarakat.

Karena itu, Jumat siang itu menjadi lebih dari sekadar kegiatan sosial. Ia menjelma menjadi pertemuan diam-diam antara dua kelompok yang sama-sama terluka—mereka yang hidup dalam kekurangan, dan mereka yang pernah kehilangan kebebasan.

Turut mendampingi kegiatan tersebut Ketua Dharma Wanita Persatuan Rutan Padang Panjang Dewi Novyenti, Kepala Pengamanan Rutan Narvedha Andriyana, petugas rutan, serta ibu-ibu Dharma Wanita lainnya.

Paket rendang juga dibagikan ke panti asuhan, pangkalan ojek, hingga warga kurang mampu lainnya di sekitar Kota Padang Panjang.

Namun di balik semua itu, ada pemandangan yang paling membekas: seorang warga binaan yang berjalan pelan sambil membawa kantong rendang, mengetuk pintu rumah warga dengan hati-hati, lalu mengulurkan bantuan dengan kedua tangan.

Barangkali, di momen itulah tembok penjara terasa runtuh sejenak.Dan dari aroma rendang yang mengepul hangat itu, masyarakat perlahan diingatkan:bahwa manusia, sekelam apa pun masa lalunya, tetap bisa kembali belajar menjadi baik.(paulhendri)

Share :

Baca Juga

BERITA

Propam Polres Bintan Lakukan Pemeriksaan Kelengkapan Kendaraan Terhadap Personel

BERITA

Danramil Kedungreja Hadiri Penyerahan Sertifikat Program PTS di Desa Bangunreja

BERITA

Polda Jateng selidiki dugaan korupsi Dana Desa di Tiga Kabupaten: Penyelidikan sejak bulan April 2023

BERITA

Dialog Interaktif Terkait Fatwa MUI Tentang Produk Negara Israel

BERITA

Dies Natalis IPDN ke-67, Erman Safar Diberi Penghargaan Kartika Pamong Praja Muda

BERITA

Pertina Sumbar Targetkan Juara Umum PON XXII

ARTIKEL

Jacob Ereste : Raja Zalim Tak Hanya Disanggah, Tapi Layak Dipancung Seperti Luis XVI

BERITA

Panglima TNI: Super Garuda Shield Sebagai Bagian Diplomasi Militer dan Kemanusiaan