PadangPanjang.Sinyalnews.com-Senja Ramadhan merayap pelan di Jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang. Deru kendaraan bersahutan, sementara para pengendara tampak terburu-buru mengejar waktu berbuka.
Di tengah riuh jalanan itu, seorang pria berdiri di tepi jalan sambil memegang bungkusan-bungkusan takjil. Sesekali ia melambaikan tangan, bukan untuk menyapa, melainkan menghentikan angkot yang melintas.
Angkot itu pun berhenti. Pria bertubuh bonsor tersebut lalu mendekat, menyodorkan beberapa bungkusan makanan ke dalam kendaraan. Para penumpang yang duduk berjejer tampak terkejut, sebelum akhirnya tersenyum menerima takjil yang diberikan.“Ini untuk berbuka nanti,” katanya singkat.
Sosok itu adalah Rony Mulyadi .SE Dt Bungsu. Mantan Ketua DPRD Tanah Datar periode 2019–2024 yang kini duduk sebagai anggota DPRD Sumatera Barat dari Komisi 3 itu,tampak tak canggung berdiri di tepi jalan, menyapa para pengendara motor, sopir angkot, hingga penumpang kendaraan yang melintas.
Sore itu, jabatan politik seolah tertinggal jauh di belakangnya. Yang terlihat hanya seorang lelaki yang memilih berbagi di tengah hiruk-pikuk jalan kota.
Namun kisah berbagi itu dimulai beberapa waktu sebelumnya. Sebelum berdiri di pinggir jalan, Rony Mulyadi lebih dulu mendatangi kawasan kuliner di Pasar Raya Padang.
Di sana ia memborong aneka takjil dari para pedagang kecil, gorengan hangat, kolak manis, kue basah, hingga minuman segar yang menjadi teman berbuka puasa.
Satu per satu dibeli. Bagi para pedagang, kehadiran Rony seperti angin segar di tengah Ramadhan. Dagangan yang biasanya menunggu lama untuk habis, hari itu langsung ludes.“Alhamdulillah, cepat habis hari ini,” ujar seorang pedagang dengan wajah sumringah.
Bagi Rony, langkah itu bukan sekadar kegiatan sosial biasa. Ia lahir dari keluarga pengusaha rumah makan yang namanya dikenal hingga mancanegara. Sejak kecil ia memahami bahwa di balik setiap makanan yang dijual, ada perjuangan panjang para pelaku usaha kecil.
Karena itu, membeli dagangan mereka lalu membagikannya kembali kepada masyarakat menjadi cara sederhana untuk menghidupkan dua hal sekaligus: kepedulian sosial dan ekonomi rakyat kecil.
Menjelang magrib, puluhan bungkusan takjil itu kemudian dibagikan di depan gedung DPRD Sumatera Barat, di Jalan Khatib Sulaiman.
Motor berhenti. Angkot berhenti. Bahkan beberapa mobil melambat ketika melihat bungkusan takjil dibagikan.
Satu per satu orang menerima makanan untuk berbuka puasa. Seorang pengemudi ojek tersenyum lebar. Di dalam sebuah angkot, penumpang yang awalnya tampak lelah setelah seharian beraktivitas berubah ceria ketika menerima takjil yang disodorkan melalui pintu kendaraan.
Senja semakin turun. Langit Padang memerah, dan waktu berbuka tinggal menunggu detik. Bungkusan takjil itu akhirnya habis.
Namun yang tersisa bukan sekadar makanan untuk berbuka.
Yang tertinggal adalah sepotong pemandangan sederhana di jalan kota,tentang seorang politisi yang memilih berdiri di tepi jalan, menghentikan angkot, dan menyapa rakyatnya dengan cara yang paling sederhana.
Di tengah dunia politik yang sering terasa jauh dari rakyat, sore itu Rony Mulyadi seolah ingin mengingatkan satu hal, bahwa kadang-kadang, kepedulian tidak lahir dari podium atau ruang rapat.Melainkan dari tangan yang menyodorkan sebungkus takjil…
kepada orang-orang yang bahkan tidak sempat ia kenal namanya (paulhendri)














