PadangPanjang.Sinyalnews.com-Di bawah rindang pepohonan kampus Universitas Teknologi indonesia Sabtu pagi, 14 Maret 2026, puluhan mahasiswa berdiri rapat di depan sebuah bus besar. Mereka tersenyum, berfoto, dan menggenggam harapan yang sama: pulang.
Di wajah-wajah muda itu tersimpan satu kerinduan yang sederhana tetapi dalam,bertemu kembali dengan orang tua di rumah, di kota kecil bernama PadangPanjang
Hari itu, kerinduan itu difasilitasi oleh pemerintah kota melalui program “Mama Papa Mudik Gratis” yang digagas Dinas Perhubungan Kota PadangPanjang Program ini memberi kesempatan kepada 80 mahasiswa Padang Panjang yang kuliah di luar Sumatera untuk pulang kampung menjelang Lebaran 1447 H Hijriah.
Bus yang akan membawa mereka pulang bukan sekadar kendaraan. Ia seperti jembatan yang menyambungkan kembali jarak antara rantau dan kampung halaman.
Pelepasan keberangkatan dilakukan langsung oleh Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis didampingi Kepala Dinas Perhubungan Fhandy Ramadona
Di hadapan para mahasiswa, wali kota menyampaikan pesan yang lebih dari sekadar seremoni. “Kalian adalah masa depan Padang Panjang. Jagalah kekompakan, teruslah berjuang menuntut ilmu, dan suatu hari nanti pulanglah membawa gagasan besar untuk membangun kota ini,” pesannya.
Program mudik gratis ini tidak hanya berangkat dari Jakarta. Titik kumpul mahasiswa juga dilakukan di kampus UNPAD di Bandung Raya serta ITB Lampung. Namun tahun ini kapasitas program masih terbatas. Hanya 80 mahasiswa yang bisa ikut serta.
Wali Kota Hendri Arnis bahkan secara khusus meminta agar program ini terus berlanjut dan diperbesar pada tahun-tahun mendatang.
“Tahun depan armadanya harus kita tambah agar lebih banyak mahasiswa bisa ikut,” ujarnya.Namun cerita sebenarnya tidak hanya terjadi di halaman kampus tempat bus itu berangkat.
Di rumah-rumah sederhana di Padang Panjang, kabar tentang keberangkatan bus mudik itu telah sampai lebih dulu kepada para orang tua.Bagi mereka, kabar itu terasa seperti mengangkat beban yang selama ini diam-diam dipikul.
Yusniar (54), seorang ibu yang sehari-hari bekerja serabutan membantu tetangga dan sesekali berjualan kecil di pasar, mengaku setiap menjelang lebaran ada satu hal yang selalu membuatnya cemas: ongkos anak pulang dari rantau.
Dengan mata berkaca-kaca ia menceritakan kegelisahan itu. “Saya ini kerja apa saja yang bisa dikerjakan. Kadang bantu orang di warung, kadang bersih-bersih rumah orang. Penghasilan tidak tentu. Jadi kalau sudah dekat Lebaran, yang paling saya pikirkan itu ongkos anak pulang. Kadang sampai malam saya tidak bisa tidur memikirkannya. Alhamdulillah sekali ada program mudik gratis ini. Rasanya seperti Allah kirim jalan agar anak saya bisa pulang,” tuturnya lirih.
Di halaman kampus di Jakarta, para mahasiswa mungkin tidak mendengar langsung suara para orang tua itu.Namun mereka merasakan hal yang sama: kerinduan yang ingin segera dituntaskan.
Salah seorang mahasiswa peserta program, Rizki Ramadhan, mengaku perjalanan pulang tahun ini terasa jauh lebih ringan.“Biasanya kalau mau pulang Lebaran saya harus berpikir panjang karena kasihan dengan orang tua. Kadang saya menabung sendiri dari uang jajan untuk beli tiket. Tapi tahun ini saya bisa pulang tanpa membebani mereka. Yang saya bayangkan sekarang cuma satu: wajah ibu ketika saya sampai di rumah nanti,” katanya dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Setelah sambutan selesai, Wali Kota Hendri Arnis berjalan mendekati bus. Ia meninjau fasilitas kendaraan satu per satu, memastikan perjalanan para mahasiswa itu aman.Sebelum bus berangkat, ia menyampaikan pesan sederhana yang terasa sangat hangat.
“Titip salam untuk keluarga di rumah.”
Mesin bus kemudian menyala. Perlahan kendaraan itu bergerak meninggalkan halaman kampus.Di dalamnya ada tawa mahasiswa, cerita perjalanan, dan mimpi masa depan. Namun bagi banyak keluarga di Padang Panjang, bus itu membawa sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia membawa pulang rindu yang lama tertahan.Ia membawa pulang anak-anak yang sedang mengejar masa depan.Dan ketika bus itu akhirnya tiba di kampung halaman nanti, yang menunggu di depan pintu rumah bukan sekadar keluarga.
Tetapi pelukan panjang yang telah lama dirindukan. (Paulhendri)














