LoPadang Panjang.Sinyalnews,com
Pagi itu, Kamis (4/12)halaman MTsN Padang Panjang tak lagi sekadar ruang rutin tempat siswa berbaris. Suasana berubah,lebih hidup, lebih hangat, lebih berdenyut. Sorot mata para siswa tiba-tiba dipenuhi rasa ingin tahu saat dua figur yang selama ini hanya mereka lihat lewat layar gawai tiba-tiba benar-benar hadir di depan mata, Ustad Derry Sulaiman dan influencer muda Willie Salim.
Di antara riuh sambutan, Ustad Derry berdiri mematung sejenak. Tatapannya menyapu bangunan tua madrasah, dinding biru, pagar besi, aroma ruang kelas yang tak pernah hilang dari ingatan seorang murid tahun 1994. Sekilas, ia tersenyum, pasenyum yang menahan getar rindu pada masa kecilnya.
“Alhamdulillah… rasanya seperti pulang kampung,” ucapnya lirih, namun cukup kuat menggetarkan hati orang-orang di sekelilingnya.
Sementara itu, Willie Salim, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di bumi Minangkabau, tak kalah terpesona. “Ini kunjungan pertama saya ke sekolah di Sumbar, dan sambutannya luar biasa,” katanya, sambil sesekali membalas lambaian siswa yang berebut maju untuk menyapa.
Keakraban keduanya dengan para siswa membuat suasana berubah menjadi lautan senyum. Dan momen paling emosional pecah ketika Willie memanggil salah satu siswi secara acak, Zahra, yang langsung menutup mulutnya, tak mampu menahan air mata ketika menerima hadiah berupa handphone dan uang tunai. Siswa lain berdiri, bertepuk tangan, sebagian mengabadikan momen dengan gemetar antara bahagia dan tak percaya.
Di sisi lain, Walikota Hendri Arnis yang turut mendampingi keduanya hanya mengangguk-angguk, seolah ingin menegaskan bahwa di tengah duka bencana, masih ada tangan-tangan yang datang tanpa pamrih. “Kehadiran mereka membawa energi positif bagi kita semua,” ujarnya.
Kepala MTsN Padang Panjang, Firmawati Anwar, tampak haru. Baginya, melihat seorang alumni kembali sebagai teladan bagi ratusan siswa adalah anugerah tersendiri. “Ustad Derry adalah inspirasi kami. Begitu pula Willie Salim yang dekat dengan anak-anak,” katanya.
Ketua Komite Sekolah, M. Nur Idris, bahkan menyebut momen ini sebagai “napas segar” bagi madrasah.Kunjungan ditutup dengan lantunan selawat badar dipimpin Ustad Derry. Suaranya menggema lembut, seolah menghapus debu-duka yang menempel pasca banjir bandang beberapa hari sebelumnya.Namun perjalanan kemanusiaan mereka belum selesai.
Beberapa jam kemudian, langkah mereka berpindah ke lokasi relokasi warga terdampak banjir. Tanah yang masih basah, udara yang masih membawa aroma lumpur, dan puing-puing rumah yang belum sepenuhnya bersih menjadi saksi kesunyian yang berbeda dari riuh sekolah tadi.
Di titik inilah Willie Salim dan Ustad Derry meletakkan batu pertama pembangunan 10 unit rumah relokasi,rumah yang lahir dari donasi ribuan orang yang mempercayai aksi sosial Willie.
“Ini amanah,” ucap Willie dengan suara yang lebih serius. “Semoga rumah-rumah ini menjadi tempat kembali bagi mereka yang kehilangan segalanya.”
Ustad Derry menimpali dengan nada yang selalu menenangkan. “Bencana adalah ujian. Kita tak bisa menghindar, tapi kita bisa saling menguatkan.”
Warga yang hadir menundukkan kepala. Ada yang meneteskan air mata, mungkin teringat rumah lama, mungkin terharu karena ada orang-orang yang peduli tanpa diminta.
Di tanah yang masih basah itu, batu demi batu mulai tersusun. Tak banyak suara, namun ada rasa, harapan.
Harapan untuk kembali pulih.
Harapan untuk kembali berdiri.
Harapan untuk kembali hidup.
Dan pada hari itu, dari sebuah madrasah di mana kenangan masa kecil kembali dibuka, hingga lokasi bencana di mana harapan baru dibangun, Ustad Derry Sulaiman dan Willie Salim meninggalkan pesan yang tak butuh baliho besar ataupun mikrofon,
Bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya,diam, sederhana, tapi menghidupkan.(Paulhendri)














