AplalPadang Panjang,Sinyalnews.com-Di lorong sunyi bawah gedung RSUD Padang Panjang, aroma tanah basah dan udara dingin sisa hujan masih terasa menusuk. Di balik sebuah spanduk kuning bertuliskan Posko DVI, berdiri tim yang bekerja dalam diam,menjaga harapan terakhir keluarga korban di tengah duka yang menyelimuti kota kecil ini.
Sabtu (29/11/2025), Kapolres Padang Panjang AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro datang meninjau langsung Posko Disaster Victim Identification (DVI), tempat di mana setiap jenazah yang ditemukan dari lokasi bencana harus melewati proses identifikasi yang teliti dan penuh kehati-hatian. Para petugas DVI, sebagian mengenakan hazmat putih, tampak letih namun tetap bersiaga. Setiap orang yang masuk ke ruang jenazah membawa beban berat: harapan orang lain.
“Ini hari kedua tanggap darurat,” ujar Kapolres dengan suara pelan namun tegas. “Dua hari lalu, banjir bandang menerjang jembatan kembar Silaing Bawah. Hari ini, tim SAR telah menemukan tiga jenazah. Mereka sedang kami identifikasi di ruang jenazah RSUD.”
Kalimat itu seakan menggema di ruang sempit tersebut. Tiga nyawa yang kembali ditemukan berarti tiga keluarga yang akan menerima kabar pahit. Namun bagi mereka yang masih mencari, setiap jenazah yang ditemukan adalah secercah peluang untuk menutup penantian yang menyiksa.
Di sela peninjauan, Kapolres kembali menyampaikan imbauan penting.”Kepada masyarakat yang merasa keluarganya terdampak sapuan banjir bandang dan hingga kini belum ditemukan, silakan menghubungi ruang jenazah RSUD Padang Panjang. Kami akan membantu sebisa mungkin.”
Namun duka tidak hanya berhenti di Padang Panjang. Beberapa jenazah ditemukan sampai ke wilayah Kayu Tanam, terbawa derasnya arus Batang Anai. Mereka kini berada di RS Bhayangkara Padang, menunggu keluarga untuk dikenali dan dipulangkan.
Tv“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujar Kapolres penuh empati. “Dan bagi yang masih mencari, semoga segera mendapatkan titik terang. Tim SAR gabungan masih terus menyisir timbunan longsor dan sepanjang aliran sungai Batang Anai dan Lembah Anai.”
Di luar ruang posko, suara sirine mobil SAR sesekali terdengar. Warga yang datang menatap dengan mata sembap, sebagian menggenggam map berisi foto keluarga, sebagian lainnya hanya menunduk sambil berdoa.
Di tengah kepanikan, kelelahan, dan kesedihan, Posko DVI menjadi tempat di mana harapan dan kenyataan bertemu. Tempat di mana para petugas berdiri sebagai saksi bisu, memastikan setiap korban bencana kembali dengan identitas yang benar,hingga keluarga bisa mengucapkan perpisahan terakhir dengan layak.
Karena di balik setiap bencana, ada cerita manusia yang harus tetap dijaga(paulhendri)














