PadangPanjang,Sinyalnews.com – Kota Padang Panjang sedang berada dalam masa tergelap nya. Hujan badai, banjir bandang, dan longsor memutus akses, menghanyutkan warga, dan menyisakan luka mendalam. Jembatan Kembar, yang selama ini menjadi nadi pergerakan warga, menjadi titik bencana paling memilukan.
Hingga hari ini, 19 warga dilaporkan hilang di sekitar kawasan itu. Dari proses pencarian yang dipusatkan hingga ke Kayu Tanam, 15 korban telah ditemukan, 6 orang sudah teridentifikasi, sementara 9 lainnya masih menunggu identifikasi.Sementara 4 warga lainnya masih belum ditemukan dan terus dicari.
Di tengah situasi genting seperti ini, publik sempat menyorot keras ketidakhadiran Wali Kota Padang Panjang pada hari-hari pertama bencana. Media sosial meledak dengan kritik, sebagian marah, sebagian kecewa,semuanya bernada sama: “Kota sedang berduka, pemimpin seharusnya ada di sini.”
Tekanan moral itu terus bergulir.Pada Jumat (28/11/2025), sang walikota akhirnya tiba di kota Padang Panjang , Perjalanannya bukan jalur biasa,bukan karena dramatisasi, tapi karena jalan benar-benar putus.
Dari bandara, ia menuju Mega Mendung. Namun di titik itu, akses terputus total. Ia harus naik ke sisi jalan yang longsor, menyusuri rel kereta api sebentar hingga menemukan jalur turunan di seberang.
Di bawah hujan rintik dan medan licin, ia turun meski lokasi berlumpur harus dia lewati, kembali hingga disambut anggota Satpol PP yang sudah menunggunya.
Dari sana, ia menumpang sepeda motor menuju Jembatan Kembar.Untuk mencapai titik paling kritis, ia harus kembali menyeberangi jembatan rel kereta, satu-satunya akses yang masih bisa dilalui manusia.
Bukan perjalanan singkat,dan bagi sebagian warga, perjalanan itu terasa seperti “penebus kesalahan” atas absennya ia sehari sebelumnya.Pakaian basah, sepatu penuh lumpur, wajah tegang,semua itu menjadi saksi perjalanan menuju kota yang sedang berduka.
Dilihat dari postingan Ibu Maria Feronika di FB nya “ Hendri Arnis datang dari BIM menuju Mega Mendung ternyata, jalan putus., Walikota Hendri arnis naik ke sisi jalan, lewat rel kereta, lalu turun lagi. Setelah itu diantar dengan motor ke Jembatan Kembar. Jalan masih tidak aman dan saya tidak menyarankan masyarakat melewatinya,” ujarnya ketika tiba di lokasi longsor Jembatan Kembar
Sementara itu, alat berat menggeser batu besar, tim SAR menyisir sungai, relawan mengangkut logistik, dan aparat berjaga memastikan tidak ada warga yang mendekat ke titik rawan.
Provinsi Sumatera Barat, termasuk Padang Panjang, kini berada dalam status tanggap darurat bencana.“Evakuasi warga tetap menjadi prioritas. Kita petakan lokasi rawan dan percepat pembersihan akses agar bantuan segera masuk,” katanya.
Namun kedatangan itu bukan sekadar kunjungan lapangan.Di mata publik, kedatangan itu punya makna lain: bentuk kehadiran seorang pemimpin setelah gelombang kritik yang deras.Apakah cukup meredam kekecewaan? Warga tentu akan menilainya sendiri.
Yang jelas, di tengah hujan yang belum berhenti, tim pencarian masih bekerja, keluarga korban masih menunggu, dan kota masih mencoba berdiri.
Dan hari itu, langkah seorang walikota, meski terlambat,akhirnya kembali berpijak di tanah bencana yang memanggilnya sejak awal.(Paulhendri)














