Home / ARTIKEL / BERITA / DAERAH / INTERNASIONAL / NASIONAL / PERISTIWA

Sunday, 22 September 2024 - 11:46 WIB

MENGENANG DAKWAH SYEKH HAJI ZAINUDDIN HAMIDY, ULAMA PEJUANG DARI PAYAKUMBUH

Payakumbuh, Sinyalnews.com, —Syekh Haji Zainuddin Hamidy, lahir di Koto Nan IV Payakumbuh pada tanggal 8 Februari 1907. Anak dari Abdul Hamid dan Halimah. Putra kedua dari dua orang bersaudara. Kakaknya bernama Nahrawi, istri dari Imam Mukhtasar, seorang Ulama terpandang di daerahnya.

Masa kecilnya dihabiskan Zainuddin Hamidy di kampung halamannya.

Bisa dibilang, ia tumbuh dari keluarga yang tidak begitu religius. Ayahnya yang seorang pemberani bahkan dianggap preman. Beruntunglah ia memiliki lingkungan yang mendukung serta keuletannya dalam menuntut ilmu, hal itu membuat Zainuddin Hamidy kelak dikenal sebagai seorang ulama yang cukup berpengaruh.

Zainuddin kecil tidak suka bermain seperti kebanyakan anak sebayanya, ia lebih suka belajar. Paling dia hanya bermain bola yang merupakan olah raga kesukaannya. Bahkan hobi main bola ini dibawa sampai ia dewasa.
Menurut keterangan murid beliau, H. Haffash Shamah, Buya Zainuddin bila tidak mengajar, sering bermain bola dengan murid-muridnya dan pemuda sekitar pesantren yang dia dirikan.

Zainuddin Hamidy adalah seorang yang ramah tamah, tapi konsekuen, ulet dan tidak pernah berputus asa. Beliau tidak banyak bicara hal-hal yang tidak perlu, beliau banyak tersenyum dan memiliki wibawa yang sangat besar. Beliau adalah ahli agama dan tokoh masyarakat yang selalu berpenampilan sederhana. Karena keluasan ilmu dan kealimannya, masyarakat menggelarinya dengan gelar “Angku Mudo” yang berarti seorang ahli agama yang masih muda.

Pendidikan H. Zainuddin Hamidy

Pendidikan formal dan non-formal ia lalui. Selama lima tahun, ia sekolah di sekolah Governement di Payakumbuh. Tamat dari sekolah ini, Zainuddin Hamidy masuk sekolah Darul Funun el Abbasiy di Padang Japang,Vii Koto Talago Kec.Guguak Kab.Lima Puluh Kota- Sumatera Barat, pimpinan Syekh Abbas. Madrasah Darul Funun, sebuah lembaga pendidikan yang telah mengalami perubahan baik dalam sistem pendidikan maupun dalam fasilitas yang digunakan. Di sekolah ini, para muridnya telah belajar dengan mempergunakan fasilitas bangku, meja dan berpakaian rapi seperti memakai kemeja, dasi dan jas.

Di Madrasah darul Funun ini, Zainuddin Hamidy belajar ilmu tafsir, hadits, bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Zainuddin Hamidy dikenal sebagai murid yang cerdas. Hal ini terbukti, ketika ia duduk di bangku terakhir (kelas akhir), ia dipercaya untuk mengajar di kelas lima. Karena kepintarannya ini, pimpinan Madrasah Darul Funun Padang Japang, Syekh Abdullah Abbas menyuruh dan merekomendasikan Zainuddin Hamidy untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah. Sebelum berangkat ke Mekkah, Zainuddin Hamidy terlebih dahulu menikah dengan Rahmah.

Kelak dari Rahmah, Zainuddin Hamidy memiliki 7 orang anak. Anak Syekh Haji Zainuddin Hamidy dengan Rahmah ini diantaranya adalah Prof. DR. Abdurrahman, MA (Dosen Pasca Sarjana FISIP Universitas Indonesia) dan Ramzi Zainuddin (pimpinan Yayasan Ma’had Islamy Koto Nan IV Payakumbuh sekarang)

Dengan meninggalkan istrinya tercinta, Rahmah, Zainuddin Hamidy berangkat ke Mekkah. Di kota ini ia melaksanakan rukun Islam ke-lima. Saat wukuf di Arafah, yang tak pernah terbayangkan oleh Zainuddin Hamidy, ia bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah berhaji, ia menuntut ilmu agama di salah satu perguruan terkenal masa itu, Ma’had Islamy. Zainuddin Hamidy merupakan orang Indonesia pertama yang sekolah di perguruan ini.

Di perguruan ini ia belajar beberapa tahun. Setelah merasa cukup waktu dalam menuntut ilmu agama, Zainuddin Hamidy pulang ke kampung halamannya dalam usia yang relatif muda. Setelah sampai di Payakumbuh, beliau kemudian menikahi Desima Jasin. Dengan Desima Jasin ini, Zainuddin Hamidy memiliki 7 orang anak pula yang sekarang pada umumnya berdomisili di pulau Jawa.
Di kampung halamannya, Minangkabau, Zainuddin Hamidy kemudian mencurahkan pemikirannya dalam dunia pendidikan dan keagamaan.

Sistem Pembaharuan Pemikiran

Pembaharuan di Indonesia, khususnya di Minangkabau banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Pembaharuan pemikiran ini tidak dibawa secara langsung oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang berdomisili secara permanen di Mekkah, tapi pemikirannya tersebut ditransformasikan lewat murid-muridnya yang belajar di Mekkah.
Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dalam sejarah intelektual dan pembaharuan Islam Indonesia, khususnya Minangkabau, dianggap sebagal ulama yang mempunyai kontribusi signifikan dalam menghembuskan “angin” pembaharuan ke Minangkabau.

Diantara murid-muridnya yang pulang dari Mekkah dan kemudian dikenal sebagai ulama-ulama avant-garde Minangkabau diantaranya:
Syekh Zainuddin Hamidy,
Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Muhammad Thaib Umar, Syekh Abdullah Ahmad dan Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) yang kemudian nama-nama diatas tersebut dikenal dengan julukan Lima Serangkai. Selain Lima serangkai ini, juga dikenal Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Abdul Latief, Syekh Abbas dan Syekh Musthofa, serta Syekh Ibrahim Musa, Syekh Sutan Darab dari Pariaman, Syekh Khatib AIi dan lain-lain. Di Minangkabau, mereka ini mempelopori pergerakan pembaharuan Islam. Mereka mendirikan perkumpulan-perkumpulan, baik yang bergerak dalam lapangan pendidikan maupun yang bergerak dalam bentuk organisasi-organisasi sosial. Diantara lembaga-lembaga pendidikan yang berdiri pada masa ini diantaranya Sekolah Adabiyah, Surau Jembatan Besi yang kemudian berubah menjadi Sumatera Thawalib, dan Madrasah Thawalib di Padang Japang.

Baca Juga :  Talkshow Peran Tokoh Agama Dan Rumah Ibadah dalam Kesiapsiagaan Bencana Indonesia

Dinamika pemikiran pembaharuan di Minangkabau juga “berputar” dalam arena politik. Sumatera Thawalib yang pada awalnya bergerak dalam dunia pendidikan, kemudian melebarkan pengaruhnya dalam dunia politik dengan turut serta sebagai kontributor berdirinya Persatuan Muslim Indonesia (PERMI) tahun 1930. Syekh Abbas Abdullah sebagai pimpinan Madrasah Thawalib Padang Japang tidak berniat masuk dalam kancah politik tersebut. Untuk itu beliau menukar nama lembaga pendidikan yang dipimpinnya ini menjadi Madrasah Darul Funun el-Abbasiy. Setelah kembalinya Syekh Haji Zainuddin Hamidy dari Mekkah, ia kemudian mendedikasikan ilmunya pada Madrasah tempat pertama ia menuntut ilmu yang Madrasah tersebut telah berganti nama dengan Darul Funun, yang kemudian mendirikan lembaga pendidikan Islam Ma’had Islamy di Koto Nan IV Payakumbuh. Ma’had islamy merupakan lembaga pendidikan Islam yang awalnya bernama Diniyyah School. Pengambilan nama Ma’had Islamy ini dilatar belakangi oleh romantisisme Syekh Haji Zainuddin Hamidy ketika ia menuntut ilmu di perguruan Ma’had Islamy Mekkah.

Di Ma’had Islamy ini, sejak tahun 1933, Syekh Haji Zainuddin Hamidy banyak melakukan inovasi-inovasi. Inovasi tersebut dilakukannya secara bertahap. Inovasi yang dilakukan selain merubah sistem pendidikan dan pengajaran dari halaqah menjadi klasikal, juga dilakukan pembangunan gedung Ma’had Islamy. Syekh Haji Zainuddin Hamidy juga giat dalam mengembangkan jumlah sekolah. Pada tahun 1933 ini juga, ia mendirikan sekolah tingkat Tsanawiyah sebagai lanjutan dari tingkat ibtida’iyah. Dengan bermunculannya sekolah-sekolah pemerintah yang didirikan oieh pemerintah kolonial Belanda, Syekh Haji Zainuddin Hamidy memasukkan pelajaran-pelajaran umum ke sekolah Ma’had Islamy. Pelajaran yang diberikan disamping pelajaran agama juga dipelajari pelajaran umum dengan bahasa pengantarnya Bahasa Arab. Pelajaran tersebut diantaranya adalah geografi, ilmu pendidikan, dan sejarah Islam.

Berkat kepemimpinan Syekh Haji Zainuddin Hamidy, Ma’had Islamy berkembang pesat. Secara kuantitatif hal ini terlihat ketika tahun 1936, pelajar-pefajar yang menuntut ilmu di Ma’had Islamy semakin bertambah. Banyaknya pelajar-pelajar tersebut, hingga perlu dilakukan penambahan gedung yang memadai. Penambahan gedung yang memakan biaya yang cukup banyak ini bisa diatasi, karena banyaknya sumbangan dari masyarakat Minangkabau, khususnya masyarakat Payakumbuh. Hal ini merefleksikan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat Minangkabau, khususnya Payakumbuh terhadap Syekh Haji Zainuddin Hamidy sangat tinggi.

Pada tahun 1940, gedung baru yang didanai secara sukarela dan patungan oleh masyarakat ini, selesai dibangun. Gedung baru ini berjumlah 10 lokal. Mayoritas permanen, Setelah gedung baru ini tuntas dibangun dan diresmikan pemakaiannya, pada tanggal 13 Februari 1941 terjadi angin puting beliung yang merobohkan gedung yang baru dibangun tersebut. Kesedihan kemudian menghinggapi hati masyarakat dan para pengurus Ma’had Islamy, dan tak terkecuali Syekh Haji Zainuddin Hamidy. Untuk menenangkan hati masyarakat dan pengurus, Syekh Haji Zainuddin Hamidy berusaha untuk tampil tabah dan selalu mengatakan : “Asa Rabbuna an Yubdillana Khairan Minhadza”. Artinya: “Semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik dari yang ini.”

Dibawah komando Syekh Haji Zainuddin Hamidy, mereka mulai kembali membangun gedung yang roboh tersebut. Untuk merealisasikan keinginan ini, maka dibentuk panitia pembangunan gedung baru. Panitia ini diketuai oleh Fakhruddin HS. Gt. Madjo Indo, Ahmad Hamid Ibrahim, Arbi, Kari Lazim dan lain-lain.
Berkat kerja keras panitia dan dukungan dari masyarakat, pada tahun 1942, gedung baru ini selesai dibangun. Dengan adanya gedung baru ini dan dukungan finansial yang lumayan memadai, Syekh Haji Zainuddin Hamidy bisa mengerahkan segala kemampuannya untuk mencurahkan ilmu agama, tanpa memikirkan kendala-kendala teknis.

Syekh Haji Zainuddin Hamidy pun bisa tenang mentransformasikan ilmunya tersebut kepada pelajar-pelajar Ma’had Islamy. Berkat rahmat Allah SWT dari tahun ke tahun, Ma’had Islamy berkembang pesat dan pelajar-pelajar yang menuntut ilmu disana makin bertambah.

Pada masa penjajahan Jepang, tantangan yang dihadapi oleh Syekh Haji Zainuddin Hamidy dan Ma’had Islamy sangat berat sekali. Sekolah hanya tiga kali sehari. Hari lain diisi dengan gotong royong dan kerja paksa untuk kepentingan Jepang. Selain itu, yang sangat menyakitkan adalah kewajiban untuk melakukan Seikere’ (hormat ke Kaisar Jepang “Tenno Naika” dengan menghadap kearah matahari terbit) dan berkumpul dilapangan untuk menyanyikan lagu Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang.

Disamping itu, Jepang juga melakukan intervensi kedalam dunia pendidikan dengan mewajibkan Bahasa Jepang menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah. Realitas seperti inilah yang dilalui oleh Syekh Haji Zainuddin Hamidy dalam membina Ma’had Islamy. Intervensi Jepang tersebut mengarah kepada penggerogotan akidah. Ini sebenamya sangat disadari oleh Syekh Haji Zainuddin Hamidy. Namun Syekh Haji Zainuddin Hamidy tidak ingin mengambil jalan konfrontatif yang bersifat frontal. Untuk itu, dalam berbagai kesempatan beliau selalu mengatakan dan mengingatkan kepada masyarakat terutama pelajar-peiajar Ma’had Islamy, bahwa pelaksanaan seikere’ dan menyanyikan lagu kimigayo agar kita lakukan ini bukanlah dari hati dan keyakinan kita, tetapi kita lakukan karena terpaksa.

Baca Juga :  Kabid Humas Polda Kepri Menjadi Narasumber Pada Rakernis Fungsi Tik Polda Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2023

Kewibawaannya dan perhatiannya serta daya improvisasi nya dalam mengembangkan lembaga pendidikan Ma’had Islamy terus terlihat, hingga Indonesia merdeka. Hal ini terlihat ketika tahun 1950 Syekh Haji Zainuddin Hamidy membuka Sekolah Menengah Pertama Islam yang disingkat dengan SMPI. Kurikulum SMPI disesuaikan dengan kurikulum sekolah-sekolah umum yang kemudian ditambah dengan pendidikan agama.

Dengan didirikannya SMPI ini memperlihatkan bahwa, Syekh Haji Zainuddin Hamidy mampu membaca dan merespon zaman. Ma’had Islamy – bagaimanapun bentuk, corak, pola maupun dinamikanya — telah menjadi “pemain sejarah” intelektual Minangkabau. Lembaga ini telah mampu menjadi kontributor potensial dalam melahirkan intelektual-intelektual terkemuka Minangkabau. Sekarang ini banyak dikenal tokoh-tokoh Sumatera Barat yang merupakan “buah tangan” dan anak didik dari Syekh Haji Zainuddin Hamidy. Tokoh-tokoh Sumatera Barat tersebut diantaranya: C. Israr (intelektual Minang kabau), Arius Syaikhi (pakar ilmu falak Indonesia), Prof.DR.H. Mansur Malik (mantan Ketua MUI Sumatera Barat dan mantan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang) dan lain-lain. Walaupun tidak semaju dan selegendaris Ma’had Islamy ketika dibawah pimpinan Syekh Haji Zainuddin Hamidy, tapi Ma’had Islamy masih eksis hingga sekarang. Ma’had Islamy sekarang dipimpin oleh salah seorang putra Syekh Haji Zainuddin Hamidy, Ramzi Zainuddin.

Syekh Haji Zainuddin Hamidy pada masa sebelum kemerdekaan, termasuk kedalam “kelompok lima”. Sebuah kelompok pergerakan yang cukup legendaris di Payakumbuh. Kelompok ini merupakan sebuah kelompok intelektual yang selalu mendiskusikan perkembangan-perkembangan dan mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk kemerdekaan Indonesia. Selain Syekh Haji Zainuddin Hamidy, kelompok lima ini terdiri tokoh-tokoh terkemuka Payakumbuh pada waktu itu, yaitu : Fakhruddin HS. Datuk Majo Indo, Arisun St. Alamsyah, Haji Nasharuddin Thaha, dan Haji Darwis Taram Dt. Tumanggung.

Setelah kemerdekaan, Syekh Haji Zainuddin Hamidy dipercaya menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Kabupaten 50 Kota. Bersama-sama dengan tokoh-tokoh masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya, mereka terjun ketengah-tengah masyarakat untuk melakukan penyadaran terhadap esensi kemerdekaan, serta mempertahankan kemerdekaan itu sendiri. Dengan semangat yang menggelora, Syekh Haji Zainuddin Hamidy menyediakan gedung Ma’had Islamy sebagai pusat pertemuan para tokoh Payakumbuh dan juga sebagai tempat latihan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) serta laskar-laskar perjuangan. Disamping itu, Syekh Haji Zainuddin Hamidy juga giat turun ke berbagai daerah untuk mengumpulkan dana dalam rangka membeli pesawat terbang yang kemudian dikenal dengan “Dana Emas Perjuangan”. Pada saat terjadinya ketegangan antara daerah dengan pemerintah pusat, Syekh Haji Zainuddin Hamidy menjadi tokoh kunci dalam proses penyelesaian konflik tersebut. Beliau diutus ke Jakarta untuk berunding dengan Presiden Soekamo sebagai utusan dari Sumatera Tengah bersama dengan beberapa orang teman-temannya. Dalam partai politik, Syekh Haji Zainuddin Hamidy juga aktif. Beliau pemah menjabat Ketua Masyumi Kabupaten 50 Kota. Di partai politik yang dibidani oleh Muhammad Natsir inilah, Syekh Haji Zainuddin Hamidy mencurahkan secara maksimal kontribusi politiknya sampai beliau wafat pada tahun 1957.

Disinyalir Wafatnya Buya Diracun Anggota PKI

Pada akhir hayatnya, Ramzi mengaku Buya (Syekh Haji Zainuddin Hamidy) sering diincar dan dihantui oleh orang-orang PKI. “Setelah perjuangan melawan Belanda, beliau dimusuhi orang-orang PKI karena mereka sangat tidak menyukai ulama. Depan rumah kami sering ditandai simbol agar jadi target pembunuhan PKI,” ucapnya.

Menurut Ramzi, besar sekali kemungkinan Buya Zainuddin wafat diracuni oleh orang PKI. Pasalnya, pada malam setelah pertemuan dengan Kolonel Simbolon, Buya pergi ke sebuah pertemuan di Lurah Kincia, Situjuah. Setelah itu beliau pulang kembali untuk tidur.

“Beliau itu tidak biasa minum kopi. Namun entah kenapa malam itu beliau malah minum kopi di sana. Kami yakin adik kandung dan keponakan buya Zainuddin ikut terlibat sebagai kader PKI. Karena mereka berdua yang menyuruh buya untuk minum kopi.
Mungkin sudah ajalnya juga. Kondisi badannya saat meninggal agak kebiru-biruan. Namun saat itu kami berpikiran memang sudah umurnya segitu.
Buya berpulang ke rahmatullah pada hari yang mulia, sayyidul ayyam, Jum’at , 29 Maret 1957. Wafatnya begitu tiba-tiba, tanpa menderita sakit terlebih dahulu,” tuturnya.

Meninggalnya Syekh Haji Zainuddin Hamidy membuat Sumatera Barat berkabung. Masyarakat, khususnya masyarakat Payakumbuh merasa kehilangan tokoh yang seluruh hidupnya didedikasikannya untuk kemajuan pendidikan dan kemashlahatan ummat Islam Sumatera Barat. Kehilangan masyarakat Sumatera Barat, khususnya Payakumbuh terlihat pada prosesi penguburan jenazah beliau.

Menurut Arius Syaikhi, belum pernah terjadi di Payakumbuh begitu banyak orang mengantarkan jenazah ke pekuburan selain ketika Syekh Haji Zainuddin Hamidy diantarkan ke tempat peristirahatannya terakhir. Ribuan masyarakat Payakumbuh mengiringi jenazah salah seorang putra terbaik Minangkabau ini.

Beberapa karya tulisnya, antara lain : Terjemahan al-Qur’anul Karim, merupakan tafsir al-Quran pertama di Indonesia yang dikarangnya bersama-sama dengan Fakhruddin HS. Kemudian, Terjemahan Shahih Bukhari, beliau karang bersama dengan Darwis Z. dan Fakhruddin HS., Terjemahan Hadits Arba’in dan Musthala’ah Hadits.(MAH)

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Kadis Pendidikan Sumbar Buka Latihan Dasar Kepemimpinan SMKN 9 

ARTIKEL

Fadhly Amran-Maigus Nasir Pasangan yang Cocok untuk Pimpin Kota Padang kedepan

BERITA

KAI Daop 1 Jakarta sampaikan permohonan maaf beberapa KA jarak jauh alami kelambatan, ini penyebabnya

ARTIKEL

Mahasiswa Politeknik Bosowa Kunjungi Skatek 044 Lanud Sultan Hasanuddin

ARTIKEL

Editorial” Di Reruntuhan Kita Tersadar, Saat Kota Harus Berani Bercermin

BERITA

Bupati Pasaman Barat Hamsuardi Shalat Idul Adha di Mesjid Musdalifah Simpang Godang, Sungai Aur

ARTIKEL

Buka Sosialisasi P4GN, Sekretaris Kesbangpol Ingatkan Pentingnya Upaya Penanggulangan Peredaran dan Penyalahgunaan Narkotika

BERITA

Babinsa Mapurujaya Dampingi Pelaksanaan Kegiatan Posyandu dan Pembagian Makanan Tambahan