Lanjutkan Sidang Praperadilan Kasus Dugaan Korupsi Rusunawa Sijunjung:Kuasa Hukum Tersangka Ajukan Replik

Padang, Sinyalnews.com,- Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), dinilai terkesan sangat asal-asalan dan menganggap enteng proses persidangan praperadilan atau bisa saja dikatakan sebagai tindakan yang tidak menghargai lembaga Praperadilan.

Hal tersebut diungkapkan pemohon praperadilan tersangka A melalui Kuasa Hukumnya Mardefni, SH, MH, Gusni Yenti SH dan Irwan Nevada SH dalam menanggapi, jawaban pemohon Kejati Sumbar pada Selasa (21/2).

Dalam lanjutan sidang praperadilan dalam kasus dugaan penyimpangan proyek pembangunan rumah susun (rusunawa) pekerjaan/ASN Kabupaten Sijunjung yahun anggaran 2018 di Pengadilan Negeri Padang.

“Kejati Sumbar tidak cermat dan teliti membaca isi dan maksud dari permohonan praperadilan pemohon, sehingga Kejati Sumbar sebagai termohon keliru dalam memberikan jawaban terhadap dasar hukum Pemohon,”katanya.

Baca Juga :  Tinjau Pengerjaan Jalan Provinsi di Mentawai, Gubernur Mahyeldi Tegaskan Akses Jalan Penting untuk Perekonomian Warga di Bumi Sikerei

Dari jawaban Kejati tersebut seolah-olah Kajati Sumbar tidak percaya atas kinerja Kejaksaan Negeri Sijunjung yang telah mengeluarkan surat dan telah dilaporkan kepadanya oleh Kepala Kejaksaan Negeri Sijunjung melalui surat Nomor : B-9/L.3.20/Fd.1/07/2019 tertanggal 8 Juli 2019 bahwa berdasarkan fakta yang terungkap dalam Penyelidikan disimpulkan tidak terdapat bukti permulaan yang cukup telah terjadi peristiwa pidana, oleh karena itu penyelidikan kasus ini dihentikan.

 

Oleh sebab itu, slogan Jaksa itu satu ternyata tidak demikian halnya dengan jawaban tersebut karena Kejati tidak ada kepercayaan terhadap kinerja Kejaksaan Negeri Sijunjung yang diasumsikan Jaksa Itu tidak satu, satu Kejaksaan Negeri Sijunjung, satu lagi Kejati Sumbar. Sehingga dalil tersebut tidak beralasan, karena bukan bukti permulaan lagi, tetapi bukti permulaan yang dimula-mulakan lagi.

Baca Juga :  Gandeng Dinas Pertanian, Satgas TMMD 118 Kodim Muna Sosialisasi Tentang Pertanian Kepada Warga Tombula

“Soal SPDP, pemohon menegaskan, seharusnya yang diberikan kepada tersangka, adalah SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan) bukan lampiran Pemberitahuan Penyidikan Perkara tindak Pidana yang ditujukan kepada Ketua KPK, dari jawaban tersebut sangat jelas dan tandas Kejati telah mengaku, bahwa memang tidak menyerahkan SPDP kepada Pemohon,”ujarnya.

Usai replik tersebut, hakim tunggal Anton Rizal Setiawan yang dibantu Panitera Pengganti Rosteti Novalara SH mengundur sidang Rabu (22/2) besok untuk mendengarkan Duplik dari Kejaksaan Tinggi Sumbar (termohon).

Share :

Baca Juga

ARTIKEL

Danwing Udara 5 Lanud Sultan Hasanuddin Sambut Kedatangan Kasal Di Makassar

BERITA

Mata Elang Di Malam Hari, Pos Haumeniana Dan Pos Nilulat Satgas Yonkav 6/Naga Karimata Berkolaborasi Dalam Gagalkan Percobaan Penyelundupan

ARTIKEL

LAUNCHING INOVASI BUNGTEKAB”‘DAPUR SEHAT NUTRISI ANAK”

BERITA

PENCAIRAN BANTUAN BLT / BBM / PKH MASYARAKAT DI KANTOR KCM.BUNTEKAB

BERITA

Pasar Tumpah Koto Baru: Ketika Polisi Mengurai Macet, Persoalan Puluhan Tahun Belum Tuntas

ARTIKEL

Komsos Dengan Petani, Babinsa Kuala Kencana Beri Motivasi Kepada Petani Nanas

BERITA

Danramil 07/ Maos Menjadi Narasumber Bencana Alam Skala Lokal dan Harap Masyarakat Peduli Bencana  

ARTIKEL

Edy Oktafiandi: Kupas Tuntas Moderasi Beragama Pada Dialog Tokoh Fungsional Antar Lintas Agama Kota Padang Tahun 2024