PadangPanjang.Sinyalnews.com — Pengawasan obat dan makanan selama ini identik dengan laboratorium, petugas pengawas, dan meja pemeriksaan. Namun di Padang Panjang, upaya itu mulai diperluas ke ruang yang lebih dekat dengan generasi muda: Gerakan Pramuka.
Bukan sekadar menambah satu satuan karya dalam struktur kepramukaan, Kwartir Cabang (Kwarcab) 12 Gerakan Pramuka Kota Padang Panjang mencatat langkah baru dengan melantik Pengurus Pimpinan Cabang Satuan Karya Pramuka Pengawas Obat dan Makanan (Saka POM).
Padang Panjang menjadi daerah pertama di Sumatera Barat yang melantik kepengurusan Saka POM tersebut.
Pelantikan dilakukan Ketua Harian Kwarcab 12 Gerakan Pramuka Kota Padang Panjang, Maria Feronika, di Rumah Dinas Wali Kota Padang Panjang, Jumat (4/9/2026). Prosesi itu disaksikan Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Padang Panjang Hendri Arnis bersama jajaran.
Di balik seremoni tersebut, ada pesan yang jauh lebih besar: generasi muda tidak cukup hanya diajarkan menjadi Pramuka yang tangguh, disiplin, dan peduli lingkungan. Mereka juga perlu memiliki kecakapan untuk mengenali apa yang aman dikonsumsi dan digunakan.
Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Padang, Irwan, dipercaya sebagai Ketua Saka POM Kota Padang Panjang sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Saka POM.
Irwan mengatakan, pembentukan Saka POM di Padang Panjang merupakan yang pertama dilaksanakan di Sumatera Barat. Kehadiran satuan karya ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi anggota Pramuka untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sekaligus pengalaman mengenai pengawasan obat dan makanan.
Ruang belajarnya pun bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Anggota Pramuka, khususnya golongan Penegak dan Pandega, dapat dibekali pemahaman mengenai keamanan pangan, obat-obatan, kosmetik, serta berbagai produk yang beredar di tengah masyarakat.
Dengan cara itu, isu keamanan obat dan makanan tidak berhenti sebagai urusan lembaga pengawas. Pengetahuan tersebut dibawa masuk ke lingkungan sekolah, keluarga, komunitas, hingga masyarakat.
Dari konsumen menjadi pengawas yang sadar.
Itulah titik penting dari keberadaan Saka POM.
Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis mengatakan, pengurus yang baru dilantik memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan program yang edukatif sekaligus mendorong anggota Pramuka menjadi pelopor masyarakat dalam memilih produk yang aman.
“Kita ingin semua yang dilantik hari ini bisa menyeleksi dan memperhatikan produk-produk yang aman dan tidak aman yang beredar di Padang Panjang ini. Mana bahan berbahaya kita seleksi, dan mana yang sudah tidak baik atau kedaluwarsa kita basmi,” tegas Hendri.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Saka POM tidak dirancang sekadar sebagai atribut baru dalam organisasi Pramuka. Ada tuntutan agar anggota yang terlibat mampu membawa pengetahuan itu ke lapangan.
Sebab, persoalan obat dan makanan bukan perkara kecil.
Produk yang dikonsumsi masyarakat setiap hari bersentuhan langsung dengan keselamatan dan kesehatan. Ketika pengetahuan tentang keamanan produk diperkuat sejak usia muda, kesadaran konsumen pun diharapkan tumbuh sebelum persoalan muncul.
Di titik inilah peran Maria Feronika menjadi penting.
Ketua Harian Kwarcab 12 Gerakan Pramuka Padang Panjang yang juga Ketua TP PKK Kota Padang Panjang itu sebelumnya membawa TP PKK Padang Panjang mencatat prestasi sebagai juara umum Gerakan PKK dan Dasa Wisma tingkat Sumatera Barat.
Kini, melalui ruang Pramuka, Maria kembali mendorong sebuah inovasi yang belum dilakukan kwartir cabang lain di Sumatera Barat.
Namun ukuran keberhasilannya tentu bukan pada label “pertama”.
Tantangannya justru berada setelah pelantikan: apakah Saka POM mampu bergerak, apakah anggota Penegak dan Pandega benar-benar mendapatkan pengetahuan yang memadai, dan apakah pengetahuan itu sampai kepada masyarakat.
Maria menyebut pembentukan Saka POM bukan sekadar agenda pelantikan, melainkan awal dari sebuah gerakan.
“Ini bukan hanya sebuah pelantikan, tetapi merupakan awal dari sebuah gerakan. Kami berharap Saka POM mampu menjadi wadah bagi anggota Pramuka untuk belajar, berkarya, sekaligus ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilih dan menggunakan obat serta makanan yang aman,” ujarnya.
Maria juga menyatakan kesiapan Padang Panjang menjadi daerah percontohan dalam pengembangan Saka POM di Sumatera Barat.
Harapannya sederhana, tetapi strategis: apa yang dimulai di Padang Panjang tidak berhenti di Padang Panjang.
Saka POM dapat berkembang menjadi model yang kemudian diikuti kwartir cabang lainnya di Sumatera Barat.
Pada akhirnya, keberadaan Saka POM bukan hanya tentang Pramuka mengenal BPOM.
Lebih jauh dari itu, Pramuka sedang diajak mengenali sesuatu yang setiap hari masuk ke tubuh manusia—apa yang aman, apa yang patut dicurigai, dan apa yang seharusnya tidak dikonsumsi.
Sebuah pelajaran yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh urusan paling mendasar dalam kehidupan masyarakat: keselamatan dari apa yang dimakan, diminum, dan digunakan.
Padang Panjang memilih memulainya dari generasi muda.
Dan untuk sebuah kota yang ingin menjadikan generasi mudanya bukan hanya sebagai penerima informasi, melainkan juga penyampai pengetahuan, langkah itu layak dibaca lebih jauh daripada sekadar sebuah pelantikan.(Paulhendri)














