padangPanjang.Sinyalnews.com-Di bawah langit sejuk Padang Panjang, halaman Masjid Manarul Ilmui pagi itu terasa lebih khidmat dari biasanya. Doa-doa dilangitkan, tangan saling bersalaman, dan sebuah amanah baru dimulai.
Wali Kota Hendri Arnis secara resmi melantik jajaran pengurus Badan Pengelola Islamic Center (BPIC),lembaga yang akan memikul tanggung jawab menghidupkan denyut spiritual dan intelektual di jantung kota yang sejak lama dikenal religius itu.
Namun pelantikan ini bukan sekadar seremoni. Ada jejak sejarah yang menyertainya.Islamic Center yang kini berdiri megah di kota berhawa dingin itu sejatinya merupakan gagasan yang mulai diwujudkan pada masa kepemimpinan Hendri Arnis ketika menjabat wali kota periode 2013–2018. Kini, bertahun-tahun kemudian, orang yang pernah merintisnya kembali berdiri di depan, menata pengelolaannya agar bangunan itu benar-benar hidup.
Seakan menuntaskan sebuah ikhtiar lama.
Dalam sambutannya, Hendri menegaskan Islamic Center tidak boleh berhenti sebagai simbol fisik. Ia harus menjadi ruang hidup bagi umat—tempat ilmu, dakwah, dan perjumpaan spiritual tumbuh bersama masyarakat.
“Islamic Center ini dibangun bukan hanya untuk dipandang, tetapi untuk dimakmurkan. Kita ingin tempat ini menjadi pusat kegiatan umat sekaligus destinasi wisata religi yang membanggakan Padang Panjang,” ujarnya.
Amanah besar itu kini berada di tangan Ketua BPIC yang juga Wakil Wali Kota Allex Saputra. Bagi Allex, tugas tersebut bukan sekadar jabatan struktural, tetapi panggilan batin—mengingat latar belakangnya sebagai lulusan pesantren yang tumbuh dalam tradisi pendidikan Islam.
Dengan nada rendah namun tegas, Allex menyadari tanggung jawab yang kini berada di pundaknya.“Ini bukan sekadar amanah organisasi. Bagi saya pribadi, ini adalah panggilan untuk menghidupkan nilai-nilai yang dulu kami pelajari di pesantren,bagaimana masjid dan pusat keislaman menjadi ruang pembinaan umat, tempat lahirnya akhlak, ilmu, dan peradaban,” ujar Allex.
Ia berharap Islamic Center ke depan tidak hanya ramai oleh kegiatan seremonial, tetapi juga hidup oleh aktivitas keilmuan, pembinaan generasi muda, hingga kunjungan masyarakat yang mencari ketenangan spiritual.
“Kalau dikelola dengan baik, Islamic Center ini bisa menjadi wajah religi Kota Padang Panjang. Orang datang bukan hanya untuk melihat bangunan, tetapi merasakan ruhnya,” katanya.
Harapan itu terasa masuk akal. Kota Padang Panjang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di Sumatera Barat,kota kecil yang melahirkan banyak ulama, pendidik, dan pemikir.
Kini, dengan pengurus baru, harapan itu kembali dinyalakan: agar Islamic Center tidak hanya berdiri megah, tetapi juga hidup,menjadi ruang peradaban, tempat iman dirawat dan ilmu disemai.
Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah pusat peradaban bercahaya bukanlah temboknya, melainkan orang-orang yang menghidupkannya dengan niat, kerja, dan pengabdian.(paulhendri)














