PadangPanjang.Sinyalnews.com-Hujan lebat mengguyur Kota Padang Panjang, Kamis p(15/1/2026) sore, tepat saat langkah-langkah jamaah menuju Masjid Agung Manarul ‘Ilmi Islamic Centre mulai berdatangan. Langit kelabu dan derasnya air tak menyurutkan niat. Payung-payung terbuka, pakaian basah, namun semangat tetap menyala. Di tengah cuaca yang dingin dan hujan yang jatuh tanpa jeda, tekad masyarakat dan aparatur sipil negara justru terasa kian hangat.
Di sanalah, Pemerintah Kota Padang Panjang menggelar Tablig Akbar Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, sebuah momentum refleksi spiritual yang bukan hanya menguji kesiapan fisik, tetapi juga menguatkan keteguhan iman.
Azan Asar berkumandang, menandai dimulainya rangkaian kegiatan. Ratusan jemaah dari berbagai elemen, ASN, tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan OPD, unsur Forkopimda, hingga masyarakat umum,tetap memadati masjid. Deras hujan seolah menjadi saksi, bahwa panggilan iman lebih kuat dari segala rintangan.

Wakil Wali Kota Padang Panjang, Allex Saputra, dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan Isra Mikraj bukanlah kegiatan seremonial semata, melainkan ruang perenungan untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, sekaligus mengingat kembali esensi perintah salat lima waktu sebagai tiang agama.
“Isra Mikraj mengajarkan kita tentang pentingnya salat sebagai pondasi utama kehidupan. Salat bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi pembentuk karakter, disiplin, dan integritas, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun dalam menjalankan amanah sebagai pelayan masyarakat,” ujarnya.
Ia mengajak ASN dan seluruh lapisan masyarakat untuk menempatkan salat sebagai prioritas utama dalam aktivitas sehari-hari.
“Tinggalkan sejenak pekerjaan ketika azan berkumandang. Tunaikan salat terlebih dahulu, baru kemudian kembali beraktivitas. Dari sanalah keberkahan dan ketenangan hidup akan lahir,” tambahnya.

Lebih lanjut, Allex menegaskan komitmen Pemerintah Kota untuk menghadirkan pembangunan yang sejalan dengan nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, pembangunan fisik tidak boleh tercerabut dari pembangunan spiritual.
“Nilai agama harus menjadi ruh dalam setiap kebijakan dan program pemerintah. Dengan iman yang kuat, pembangunan akan berjalan lebih bermakna dan berkeadilan,” tegasnya.
Sementara itu, Buya Drs. H. Ristawardi Dt. Marajo Batungkek Ameh, ulama kharismatik asal daerah ini, kembali menegaskan kedekatannya dengan umat. Tiga hari sebelum tablig akbar tersebut, Buya diketahui memenuhi undangan Ikatan Keluarga Alumni Padang Panjang, Batipuh, dan X Koto (IKAPABASKO) di Jakarta, untuk menyampaikan tausiah dan renungan diri bagi masyarakat perantauan yang menyambung hidup di negeri orang.

Pengalaman spiritual bersama para perantau itu seakan menjadi bekal batin yang mengalir dalam tausiahnya di Padang Panjang. Di hadapan jemaah, Buya mengulas hikmah besar perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha, sebuah perjalanan yang melahirkan perintah salat secara langsung dari Allah SWT.
“Salat adalah sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah SWT. Ia adalah penopang utama keimanan dan pembeda antara orang beriman dengan yang lalai,” tutur Buya.
Ia mengajak jamaah menjadikan nilai-nilai Isra Mikraj sebagai pedoman hidup: memperbaiki kualitas ibadah, memperhalus akhlak, serta menumbuhkan kepedulian sosial,baik di kampung halaman maupun di rantau.
Di luar masjid, hujan perlahan mereda. Namun di dalam, doa-doa terus mengalir, menyatu antara harap dan tekad. Tablig Akbar itu pun menjadi penanda bahwa iman tak pernah mengenal jarak, ia mengikat yang di kampung dan yang di rantau, dalam satu arah sujud yang sama.(Paulhendri)














