PadangPanjang.Sinyalnews.com-Arus Danau Singkarak siang itu berkejaran dengan angin. Ombaknya memantul ke dinding perahu, membuat badan boat bergetar setiap kali mesin memecah permukaan air. Namun tak sedikit pun guncangan itu menyurutkan langkah Rony Mulyadi Datuk Bungsu. Dengan rompi relawan di tubuh dan wajah yang tak bisa menyembunyikan keprihatinan, ia duduk di tepi perahu kecil yang membawa tumpukan bantuan logistik, dari beras, mie instan, hingga ribuan paket makanan siap saji.
Akses darat menuju Negeri Malalo, Kabupaten Tanah Datar, telah putus total dari dua arah. Dari arah gantiang Payo maupun arah Paningahan .Jembatan-jembatan tersapu banjir bandang, jalan longsor, rumah-rumah hanyut, dan warga terjebak dalam keterisolasian yang mengkhawatirkan. Satu-satunya jalur yang tersisa adalah air,dan hanya itu yang bisa ditempuh Rony untuk memastikan bantuan tiba.
Pada perjalanan itu, Rony tidak sendiri. Wali Nagari Batu Taba, Destrianto, mendampingi langsung dari dermaga hingga memasuki wilayah terdampak, memastikan setiap bantuan tersalurkan tepat sasaran. Kehadirannya memberi panduan sekaligus penguatan moral bagi tim relawan yang menembus jalur danau dengan risiko besar.
“Sejak hari pertama musibah, saya turun langsung ke lokasi yang paling parah,” ujar Rony pelan, menatap gelombang danau yang memantulkan langit kelabu. “Batin saya benar-benar miris. Banyak warga kehilangan tempat tinggal, akses mereka terputus total. Rasanya tak mungkin saya hanya menonton dari jauh.”
Rony Mulyadi, Anggota DPRD Sumatera Barat sekaligus Ketua Partai Gerindra Tanah Datar dan mantan Ketua DPRD 2019–2024, kembali menunjukkan keberpihakannya lewat program Gerindra Peduli Tanah Datar. Tak hanya mengirim bantuan ke posko pengungsian di tiga kecamatan, ia dan tim juga membuka dapur umum serta mengantarkan langsung bantuan ke Malalo,meski harus mempertaruhkan perjalanan melalui danau yang berarus kuat.
Hari itu, boat kecil mereka membawa 200 kotak Indomie, 4.800 bungkus FEC, dan 1.000 nasi bungkus untuk warga yang sudah berhari-hari terputus dari logistik. Semua disusun rapat sebelum akhirnya disalurkan ke nagari-nagari yang terisolir.
Di Nagari Guguk, Ketua KAN, M. Datuk Majo Datuak, menyambut dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih kepada para donatur yang tak putus mengirimkan bantuan. Akses kami benar-benar lumpuh. Yang datang lewat jalur darat tidak mungkin langsung ke Malalo. Harus berhenti dulu di Nagari Batu Taba, baru kami distribusikan menggunakan boat,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan mendesak warga saat ini adalah beras, sembako, gas elpiji, BBM, dan obat-obatan.
“Kondisi di Malalo sangat terisolir. Kami berharap akses darurat bisa segera dibuka agar bantuan lebih cepat masuk.”
Sementara itu, dapur umum Gerindra Peduli tetap mengepul setiap hari. Panci-panci besar terus berputar, memastikan anak-anak, lansia, dan keluarga terdampak mendapatkan makanan hangat di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
“Dapur umum ini kita buka agar kebutuhan makan warga tetap terpenuhi,” tambah Rony.
Di sepanjang perjalanan pulang, angin danau kembali berembus dingin. Tapi kali ini, dinginnya tidak lagi terasa sama. Ada kehangatan yang tertinggal,dari tangan-tangan yang menerima bantuan, dari wajah-wajah letih yang kembali punya harapan.
Dan di tengah semua kelelahan itu, satu hal terasa pasti,Seburuk apa pun keadaan, kepedulian tidak boleh terputus. Bahkan ketika jalan darat terhenti, kemanusiaan harus tetap mencari jalannya sendiri.(paulhendri)














